9 Pergerakan Nasional pada Masa Pendudukan Jepang

Halo sobat kali ini kita akan membahas tentang Pergerakan Nasional pada Masa Pendudukan Jepang dimana setelah kedatangan bangsa Jepang di Indonesia banyak sekali para pejuang yang harus memilih untuk bekerja sama dengan pihak Jepang atau bergerak di bawah tanah.

Meletusnya Perang Asia Pasifik diawali dengan serangan Jepang ke Pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbour (Hawai) pada tanggal 7 Desember 1941 membawa angin perubahan pada seluruh Asia termasuk Indonesia.

Jepang masuk dengan sebutan “Saudara Tua” Asia membawa banyak perubahan terhadap pergerakan nasional. Nah ada 9 pergerakan nasional pada Masa Pendudukan Jepang yang terbagi menjadi pergerakan yang di akui oleh pemerintah kolonial Jepang dan pergerakan di bawah tanah.

9 Pergerakan Nasional pada Masa Pendudukan Jepang

Perjuangan Terbuka Melalui 5 Organisasi Bentukan Jepang

Pergerakan Nasional pada Masa Pendudukan Jepang
Propaganda Jepang

Masuknya tentara Jepang ke Indonesia pada awalnya mendapat sambutan baik dari penduduk setempat. Tokoh-tokoh nasional Indonesia, seperti Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta bersedia melakukan kerja sama dengan pihak pendudukan Jepang.

Termasuk 5 Organisasi bentukan Jepang berikut ini.

Gerakan 3 A

Organisasi ini dicanangkan pada bulan April 1942, Usaha pertama kali yang dilakukan Jepang untuk memikat dan mencari dukungan membantu kemenangannya dalam rangka pembentukan negara Asia Timur Raya.

Gerakan 3 A ini dipimpin oleh Hihosyi Syimizu (propagandis Jepang) dan Mr. Samsudin (Indonesia). Dengan membentuk barisan pemuda dengan nama Pemuda Asia Raya di bawah pimpinan Sukarjo Wiryopranoto dengan menerbitkan surat kabar Asia Raya.

Gerakan 3 A yang mempunyai semboyan Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia, dan Nippon Pemimpin Asia.

Pusat Tenaga Rakyat (Putera).

images 44 min
sumber : kompas.com

Pada bulan Maret 1943 pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) yang dipimpin oleh Empat Serangkai, yaitu Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K.H. Mas Mansur. Organisasi ini dibuat setelah gerakan 3 A dianggap tidak efektif.

Tujuannya memusatkan segala potensi masyarakat Indonesia untuk membantu Jepang dalam Perang Asia Pasifik. Bagi Indonesia untuk membangun dan menghidupkan kembali aspirasi bangsa yang tenggelam akibat imperialisme Belanda.

Berikut ini Kegiatan Putera :

  • Memperkuat rasa persaudaraan Indonesia–Jepang
  • Ambil bagian dalam usaha mempertahankan Asia Raya
  • mengintensifkan pelajaran bahasa Jepang
  • memperhatikan tugas dalam bidang sosial ekonomi.

Baca juga : Indische Partij adalah.

Badan Pertimbangan Pusat (Cuo Sangi In)

Cuo Sangi In adalah suatu badan yang bertugas mengajukan usul kepada pemerintah serta menjawab pertanyaaan mengenai soal-soal politik, dan menyarankan tindakan yang perlu dilakukan oleh pemerintah militer Jepang.

Badan ini dibentuk pada tanggal 1 Agustus 1943 yang beranggotakan 43 orang (semuanya orang Indonesia) dengan Ir. Soekarno sebagai ketuanya.

Himpunan Kebaktian Jawa (Jawa Hokokai)

Putera oleh pihak Jepang dianggap lebih bermanfaat bagi Indonesia daripada untuk Jepang. Akibatnya, pada tanggal 1 Januari 1944 Putera diganti dengan organisasi Jawa Hokokai.

Tujuannya adalah untuk menghimpun kekuatan rakyat dan digalang kebaktiannya. Di dalam tradisi Jepang,kebaktian ini memiliki tiga dasar, yakni :

  • pengorbanan diri,
  • mempertebal persaudaraan
  • melaksanakan sesuatu dengan bakti.

Tiga hal inilah yang dituntut dari rakyat Indonesia oleh pemerintah Jepang. Dalam kegiatannya,Jawa Hokokai menjadi pelaksana distribusi barang yang dipergunakan untuk perang, seperti emas, permata, besi, dan alumunium dan lain-lain yang dianggap penting untuk perang.

Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI)

Satu-satunya organisasi pergerakan nasional yang masih diperkenankan berdiri pada masa pendudukan Jepang ialah MIAI. Golongan ini memperoleh kelonggaran karena dinilai paling anti-Barat sehingga akan mudah dirangkul.

MIAI diakui sebagai organisasi resmi umat Islam dengan syarat harus mengubah asas dan tujuannya. Kegiatannya terbatas pada pembentukan baitul mal (badan amal) dan menyelenggarakan peringatan hari – hari besar keagamaan.

Dalam asas dan tujuan MIAI yang baru ditambahkan kalimat “turut bekerja dengan sekuat tenaga dalam pekerjaan membangun masyarakat baru, untuk mencapai kemakmuran bersama di lingkungan Asia Raya di bawah pimpinan Dai Nippon”. MIAI sebagai organisasi tunggal Islam golongan Islam, mendapat simpati yang luar biasa dari kalangan umat Islam.

Kegiatan MIAI dirasa sangat membahayakan bagi Jepang sehingga dibubarkan dan digantikan dengan nama Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) yang disahkan oleh gunseikan pada tanggal 22 Nopember 1943 dengan KH Hasyim Asy’ari sebagai ketuanya.

Baca juga : Budi Utomo adalah.

Perjuangan Bawah Tanah pada jaman Jepang

Selain berjuang dengan berkerjasama dengan pemerintah Jepang. Para pejuang juga banyak yang berjuang di dalam tanah.

Perjuangan bawah tanah pada umumnya dilakukan oleh para pemimpin bangsa kita yang bekerja di instansi-instansi pemerintah Jepang.

Namun dibalik itu mereka melakukan kegiatan yang bertujuan menghimpun dan mempersatukan rakyat meneruskan perjuangan untuk mencapai kemerdekaan.

Kelompok-kelompok tersebut, antara lain sebagai berikut :

Kelompok Sukarni

Pada masa pendudukan Jepang, Sukarni bekerja di Sendenbu atau Barisan Propaganda Jepang bersama Moh. Yamin. Gerakan ini dilakukan dengan menghimpun orang-orang yang berjiwa revolusioner, menyebarkan cita-cita kemerdekaan, dan membungkam kebohongan-kebohongan yang dilakukan oleh Jepang.

Untuk menutupi gerakannya, Kelompok Sukarni mendirikan asrama politik dengan nama Angkatan Baru Indonesia.

Di dalam asrama inilah para tokoh pergerakan nasional yang lain, seperti Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Mr. Ahmad Subarjo, dan Mr. Sunaryo mendidik para pemuda yang berkaitan dengan pengetahuan umum dan masalah politik.

Kelompok Ahmad Subarjo

Ahmad Subarjo ada masa pendudukan Jepang menjabat sebagai Kepala Biro Riset Kaigun Bukanfu (Kantor Perhubungan Angkatan Laut) di Jakarta. Ahmad Subarjo berusaha menghimpun tokoh-tokoh bangsa Indonesia yang bekerja dalam Angkatan Laut Jepang.

Atas dorongan dari kelompok Ahmad Subarjo inilah maka Angkatan Laut berhasil mendirikan asrama pemuda dengan nama Asrama Indonesia Merdeka.

Di Asrama Merdeka inilah para pemimpin bangsa Indonesia memberikan pelajaranpelajaran yang secara tidak langsung menanamkan semangat nasionalisme kepada para pemuda Indonesia.

Kelompok Sutan Syahrir

Kelompok Sutan Syahrir berjuang secara diam-diam dengan menghimpun mantan teman-teman sekolahnya dan rekan seorganisasi pada zaman Hindia Belanda.

Dalam perjuangannya, Syahrir menjalin hubungan dengan pemimpin-pemimpin bangsa yang terpaksa bekerja sama dengan Jepang.

Sutan Syahrir juga mengajar di Asrama merdeka bersama bung Karno dan bung Hatta.

Kelompok Pemuda

Kelompok pemuda ini pada masa pendudukan Jepang mendapat perhatian khusus sebab akan digunakan untuk menjalankan kepentingan Jepang.

Pemerintah militer Jepang membuat kursus-kursus dan lembaga-lembaga pendidikan, seperti kursus di Asrama Angkatan Baru Indonesia yang didirikan oleh Angkatan Laut Jepang.

Akan tetapi, para pemuda Indonesia tidak mudah termakan oleh propaganda Jepang. di Jakarta ada dua kelompok pemuda yang aktif berjuang yang terhimpun dalam Ika Gaigakhu (Sekolah Tinggi Kedokteran) dan Badan Permusyawaratan/Perwakilan Pelajar Indonesia (BAPEPPI).

Organisasi inilah yang aktif berjuang bersama kelompok yang lain. Tokoh-tokohnya, antara lain Johan Nur, Eri Sadewa, E.A.Ratulangi,dan Syarif Thayeb.

Baca juga : Sariket Islam adalah.

Dan itulah kawan Pembahasan tentang Pergerakan Nasional pada Masa Pendudukan Jepang. Semoga informasi ini bermanfaat untuk kamu. Sampai jumpa di Pembahasan menarik lainnya.

About Andika Pratama

Founder dari ilmusaku.com