Mempelajari Sejarah Kesultanan Tidore, Perjuangan melawan Penjajah

Halo sobat, hari ini kita akan mempelajari sejarah Kesultanan Tidore. Kesultanan yang berada di kepulauan Maluku Utara. Dimana manjadi salah satu kerajaan Islam besar di wilayah timur Nusantara.

Sejarah Kesultanan Tidore tidak lepas dari rempah – rempah dan hubungan antara semua kerajaan di kepulauan Maluku dan Papua, seperti kesultanan Jailolo dan Kesultanan Ternate.

Kisah Sejarah Kesultanan Tidore ini sangat menarik untuk kita pelajari, karena menjadi bagian integral dari sejarah bangsa Indonesia.

Sejarah Kesultanan Tidore

Mengenal Kesultanan Tidore.

sumber : Kemdikbud.go.id

Kesultanan Tidore adalah Sebuah Kerajaan islam penghasil rempah-rempah yang berpusat di pulau Tidore, Maluku Utara.

Pada masa kejayaannya (pada abad ke-16 sampai abad ke-18), kerajaan ini menguasai sebagian besar Pulau Halmahera selatan, Pulau Buru, Pulau Seram, dan banyak pulau-pulau di pesisir Papua barat. Bisa dibilang Kerajaan Tidore adalah jembatan penting antara sejarah Nusantara dan Papua.

Awal mula Berdirinya Kesultanan Tidore

Menurut tradisi sejarah kepulauan Maluku meliputi empat kekuatan besar yang meliputi Ternate, Tidore, Makian (Bacaan) dan Moti (Jailolo). empat kekuatan ini disebut sebagai “Moloku Kie Raha” yang artinya “persatuan empat Kolano ” ( persatuan empat kerajaan).

Raja pertama Tidore adalah Sahajati yang merupakan saudara Mayshur Malamo, raja pertama Kerajaan Ternate. tak ada sumber berita yang menyebutkan bahwa Sahajati telah memeluk agama Islam saat mendirikan Kesultanan Tidore dan Islam belum menjadi agama utama di kerajaan waktu itu.

Bahkan menurut Hamka (1981), di Maluku saat itu masih banyak orang yang memeluk kepercayaan Symman yaitu memuja roh-roh leluhur nenek moyang.

Baru pada akhir abad ke-14, agama Islam dijadikan agama resmi Kerajaan Tidore oleh Raja Tidore ke-11, Sultan Djamaluddin, yang bersedia masuk Islam berkat dakwah Syekh Mansur dari Arab. Kerajaan Tidore pun berubah menjadi kesultanan atau kerajaan bercorak Islam.

Hubungan antara Ternate dan Tidore terbilang sangat rumit, karena kedua kerajaan ini memiliki hubungan harmonis dengan berbagai pernikahan antar kerajaan. Tapi mereka saling bersaing untuk menjadi penguasa di wilayah Indonesia Timur.

Datangnya Pengaruh Eropa ke Maluku

Setelah Sultan Djamaluddin (1495 – 1512) mangkat dia digantikan putranya yang bernama Sultan Al Mansur (1512 – 1526) di saat inilah Spanyol pertama kali mengunjungi Maluku, rombongan itu adalah sisa – sisa dari ekspedisi Magellan yang berlayar jauh dari Filipina.

Saat itu meski Ferdinand Magellan berkewarganegaraan Portugis tapi saat itu Ekspedisinya berbendera Kerajaan Spanyol dibawah Raja Charles 1. Tentu saja rombongan Spanyol itu di terima dengan baik.

Karena Sebelumnya, kerajaan tetangga yakni Kesultanan Ternate telah terlebih dulu menjalin relasi dengan bangsa Portugis. Pada masa itu, Spanyol dan Portugis sedang bersaing menanamkan pengaruh di kawasan timur Nusantara.

Pada masa itu, Spanyol dan Portugis sedang bersaing menanamkan pengaruh di kawasan Asia-Pasifik.

Tidore akhirnya membentuk aliansi longgar dengan Spanyol pada abad keenam belas, dimulai dengan kunjungan ekspedisi Magellan. Tujuannya adalah untuk melawan kekuatan Ternate, yang telah bersekutu dengan Portugis sejak 1512.

Suasana persaingan pun semakin panas. Portugis berambisi merebut Tidore dari pengaruh Spanyol. Darmawijaya dalam (2010:135) menyebutkan, terjadi beberapa kali peperangan dengan Ternate bersama Portugis dan Tidore dan Spanyol.

Pertikaian ini berakhir dengan perjanjian damai. Portugis bersedia menarik armadanya dari Tidore dengan syarat monopoli rempah – rempah.

Namun, sultan Ternate saat itu Sultan Babullah memutuskan hubungan dengan Portugis pada tahun 1570 dan membawa kejayaan pada Ternate, dia juga memperluas wilayahnya ke segala arah. Itu membuat Pihak Tidore tidak tenang. Hingga saat itu Sultan Gapi Gabuna mengizinkan Portugis dan Spanyol membuat sebuah kastil di Tidore.

Karena pengaruh Ternate yang sudah sangat besar pasukan Spanyol dari Filipina menyerang Ternate hingga posisi Ternate tertekan, di saat itulah Tidore mulai mengambil alih bekas kekuasaan Ternate. Tapi serangan itu menarik minat Belanda dan VOC ke Maluku.

Baca juga : Sejarah Kesultanan Ternate

Masa Kejayaan Kesultanan Tidore.

Kejayaan Kesultanan Tidore terjadi pada masa Sultan Saifuddin (1657-1689 M) yang berhasil membawa kemajuan hingga Tidore disegani oleh kerajaan-kerajaan lain di Kepulauan Maluku.

Saat itu pengaruh kekuasaan VOC mulai terasa di Maluku. VOC mulai menguasai Kesultanan Ternate dan juga mengendalikan perdagangan Rempah-rempah melalui kebijakan yang di sebut Pelayaran Hongi. Meski pengaruh VOC kuat di Ternate, Tidore tetap menjadi sebuah negara merdeka selama beberapa abad.

Hingga Sebuah perjanjian tahun 1768 memaksa Sultan Jamaluddin ( 1757-1779) untuk menyerahkan haknya atas Seram Timur pada pemerintahan Belanda. Hingga menimbulkan kemarahan besar di kalangan elit. Hal itu membuat Belanda marah dan menggulingkan pemerintahan Sultan Jamaluddin dan memaksa penggantinya Sultan Patra Alam menyerah pada Belanda.

Tapi perjuangan Kerajaan Tidore tidak berakhir, anak dari Sultan Jamaluddin, bernama Nuku bereaksi dan melakukan pemberontakan pada Belanda dan berhasil merebut kekuasaan dari Patra Alam dan dia pun diangkat menjadi Sultan dengan gelar Sultan Muhammad al-Mabus Amiruddin

Di bawah beliaulah Tidore mencapai masa emas dan puncak kejayaannya.

Sultan Nuku, yang disebut Lord of Fortune (Tuan keberuntungan) berhasil membawa Tidore memperluas wilayah kekuasaan Tidore sampai ke Papua bagian Barat, Kepulauan Kei, Kepulauan Aru, bahkan sampai Kepulauan Pasifik.

Dan juga berhasil menyatukan masyarakat Tidore dan Ternate untuk bersama – sama menghalau VOC dan Belanda dari kepulauan Maluku dibantu oleh Kerajaan Inggris.

Kemunduran Kerajaan Tidore.

Sepeninggal Sultan Nuku, Belanda berusaha kembali mengincar Tidore. Hal ini diperparah dengan banyanya polemik internal yang membuat Kesultanan Tidore akhirnya jatuh dalam penguasaan Belanda.

Saudaranya Sultan Zainal Abidin (1805 – 1810) terbukti tidak mampu menahan serangan Belanda dan Beliau terpaksa untuk melarikan diri dan meninggal di pengasingan. Setelah itu gelar Sultan di cabut pada 1905 dan digantikan menjadi kabupaten.

Sampai kemerdekaan Indonesia, Seiring kemerdekaan Indonesia pada 1945, Kesultanan Tidore bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tidore, tepatnya Sofifi, ditetapkan sebagai ibu kota Provinsi Maluku Utara.

Belanda akhirnya memperbolehkan Sultan baru untuk dilantik Zainal Abidin Alting (1947 – 1967). Beliau juga diangkat menjadi Gubernur Irian Barat oleh Belanda yang masih menguasai Papua (1956 – 1961) sampai akhirnya terjadi Peristiwa Pembebasan Irian Barat.

Beliau pun pindah dan menetap di Ambon sampai akhir hayatnya.

Tidak ada sultan baru yang diangkat setelah itu, sampai berakhirnya era Suharto, beberapa aspek kesultanan kembali di munculkan. Sultan pun dipilih kembali sejak 1999.

Baca juga : Kesultanan Banten

Raja – Raja Kesultanan Tidore

  • Kolano Syahjati
  • Kolano Bosamawange
  • Kolano Syuhud alias Subu
  • Kolano Balibunga
  • Kolano Duko adoya
  • Kolano Kie Matiti
  • Kolano Seli
  • Kolano Matagena
  • Kolano Nuruddin (1334 – 1372)
  • Kolano Hasan Syah 1372 – 1405)
  • Sultan Ciriliyati alias Djamaluddin (1495 – 1512)
  • Sultan Al Mansur (1512 – 1526)
  • Sultan Amiruddin Iskandar Zulkarnain (1526 – 1535)
  • Sultan Kiyai Mansur (1535 – 1569)
  • Sultan Iskandar Sani (1569 – 1586)
  • Sultan Gapi Baguna (1586 – 1600)
  • Sultan Zainuddin (1600 – 1626)
  • Sultan Alauddin Syah (1626 – 1631)
  • Sultan Saiduddin (1631 – 1642)
  • Sultan Saidi (1642 – 1653)
  • Sultan Malikiddin (1653 – 1657)
  • Sultan Saifuddin (1657 – 1674)
  • Sultan Hamzah Fahruddin (1674 – 1705)
  • Sultan Abdul Fadhlil Mansur (1705 – 1708)
  • Sultan Hasanuddin Kaicil Garcia (1708-1728)
  • Sultan Amir Bifodlil Aziz Muhidin Malikul Manan (1728-1757)
  • Sultan Muhammad MashudJamaluddin (1757-1779)
  • Sultan Patra Alam (1780-1783)
  • Sultan Hairul Alam Kamaluddin Asgar (1784-1797)
  • Sultan Nuku (1797-1805)
  • Sultan Zainal Abidin (1805-1810)
  • Sultan Motahuddin Muhammad Tahir (1810-1821)
  • Sultan Achmadul Mansur Sirajuddin Syah (1821-1856)
  • Sultan AchmadSyaifuddin Alting (1856-1892)
  • Sultan AchmadFatahuddin Alting (1892-1894)
  • Sultan AchmadKawiyuddin Alting (1894-1906)
  • Sultan Zainal Abidin Syah (1947 – 1967)
  • Sultan Djafar Syah (1999 – 2012)
  • Sultan Husain Syah (2012 -…)

Dan itulah kawan sejarah kesultanan Tidore, semoga informasi ini bermanfaat dan semoga dari sejarah Kesultanan Tidore ini kita bisa belajar banyak dari masa lalu.

Sampai jumpa sobat di materi menarik lainnya.

About Andika Pratama

Founder dari ilmusaku.com

Exit mobile version