Cerita Legenda Asal Usul Pulau Batam

Halo sobat kali ini kita akan membahas tentang Cerita Legenda Asal Usul Pulau Batam. Kisah ini telah menjadi cerita turun-temurun di masyarakat kepulauan Riau.

Kota Batam sendiri adalah kota terbesar di provinsi Riau. Wilayah Batam terdiri dari Pulau Batam, Pulau Rempang dan Pulau Galang dan pulau-pulau kecil dan terdapat di kawasan Selat Singapura dan Selat Malaka.

Batam sekarang Tumbuh menjadi kota Industri, eskpor dan pariwisata yang sangat baik di Indonesia. Tapi sebelum menjadi kota modern seperti sekarang Batam memiliki cerita asal usul pulau Batam yang menarik seperti berikut ini.

Cerita Legenda Asal Usul Pulau Batam

Asal Usul Pulau Batam

Sumber : https://iteba.ac.id/kota-batam/

Konon jaman dahulu kala berlayarlah seorang Nahkoda bergelar Qari Abdul Malik. Beliau berlayar dari Siantan hendak ke Pulau Penang. Beliau sebenarnya seorang Bugis Makasar yang telah lama menetap di Tarempa sebagai Nakhoda Tersohor.

Dia dikenal karena memiliki ilmu perbinatangan dan telah menjadi nakhoda perahu-dendan guntuk dengan banyak pengalaman melayari samudra yang luas yang terbentang dari Laut Cina Selatan hingga ke perairan Riau dan Selat Malaka.

Selain itu di juga diberi gelar Qari Abdul Malik oleh penduduk Siantan karena ilmu agamanya. Meski telah lama di Melayu, bahasa bugisnya masih kental, dan jadi tak heran jika dalam pengucapan huruf mati “nun” diujung kata menjadi “nga” oleh beliau. Juga sebaliknya, huruf mati ”nga” diujung kata diucap “nun”.

Maka jangan heran Sobat, bagi beliau pulau Siantan tempat tinggalnya, disebut Siantang. pulau Bunguran menjadi Bungurang, disusun Tebang-ladang sebaliknya Teban-ladan.

Baca juga : Asal Usul Situ Bagendit

Suatu hari, dalam pelayaran dari Siantan ke Pulau Pinang. perahu-dendang Nahkoda Alang dihadang oleh angin ribut. Haluan perahu-dendang tertiup ombak ke Selat Riau, hampir menyentuh ke pantai Bintan. Tapi mereka tidak langsung turun karena kabut dan hari sudah malam.

“Lihat itu bintang,” pekik Nakhoda Alang kepada (juru mudi kepercayaannya yang sedang memegang kemudi.

“Ke kanang…nganang…,” beliau menjerit agar terdengar si juru mudi, karena takut suara angin ribut berdesing-desing.

“Hari ini Kabut Nahkoda, tak kelihatan bintang !” sahut si juru mudi seraya memainkan kemudi. “Tak kelihatan bintang, Nakhoda…”

“Pulau Bintang… awas, dendan ini pecah kena batu rakit Bintang,” jerit Nakhoda Alang lagi”. Ke kanang…naganang… belok ke kanang…,” kata beliau pula seraya menunjuk-nunjuk ke arah kanan untuk menghindari batu rakit di Pulau Bintan.

“Oh… ini pulau Ngenang…” pikir taikong sambil membelokkan kemudi, mengarahkan haluan perahu-dendang ke Ngenang itu.

Hingga akhirnya Pulau disebelah kanan Selat Riau itu pun sampai saat ini disebut Pulau Ngenang. Padahal maksud Nakhoda sendiri agar si juru mudi itu berbelok ke arah kanan, tapi karena suara angin ribut malah menjadi pulau Ngenang.

“ Turung layar kita berdayun”, perintah Nahkoda lagi, maksudnya turunkan layar dan kita berdayung saja.

Lalu berdayunglah anak buah kapal menyusur pantai hingga masuk ke sebuah sungai. Karena air sungai cukup tenang dan tidak ada gelombang walau pun tengah angin ribut. Hingga perahu yang mereka kayuh itupun sampai ke hulu.

Tetapi tiba-tiba, “dreek… druk, plas…” perahu mereka pun berhenti, oleng sedikit, dan air sungai pun menyebur masuk ke dalam perahu. Dalam sekejap mata air nyaris melimpah ruah.

“Hei ada apa?” pekik Nakhoda Alang sambil memanggil salah satu anak buah perahu. ”terjung ke sungai, lihat apa yang kita tabrak?”

Setelah timbul, pelaut yang menyelam itu berkata, “Kita menabrak langkang kayu berduri? Keras sekali”

Mendengar itu Nakhoda terkejut dan bertanya“Ha? Terlanggar lankan berduri ? Keras duri lankan itu?” maksudnya “terlanggar langkan berduri? Keras durinya?”

“Duri lankan kayu, berteras keras, ya Tuan Qari Malik,” sahut penyelam. “keras sekali duri lankan kayu itu!”

“Angkak… angkak…” perintah Qari Malik, maksudnya angkat saja. ”angkak duri angkan itu!”.

Penyelam itu pun menolaknya, dan setelah sampai di atas kapal dia berkata kepada Nakhoda Alang yang berdiri di pinggir perahu mereka ke.

“tidak dapat menolak duri angkang melekat pada batang kayu, Nakhoda!” kata penyelam itu seraya mencuaskan air di mukanya. “banyak batang kayu berduri yang tumbang dalam sungai ini, Nakhoda.” Jelasnya.

“O… sungai berduri lan-kan banyak batan kayu?”

Akhirnya, setelah peristiwa sungai banyak duri langkan kayu itu disebut Sungai Duri Angkang, seperti pendengaran pelaut yang menyelamnya.

Sumber : dabosingkep.com

Akhirnya angin ribut berhenti. maka berangkatlah perahu sang Nakhoda Alang ke Pulau Pinang tujuannya. Di pelabuhan mereka berbongkar-maut, menjual-membeli barang dagangannya.

“baru pertama kali ini Qari Malik terlambat masuk ke Pulau Pinang?” Tanya saudagar langganan beliau. “Biasanya belum selang tiga bulan perahu Nakhoda telah masuk.”

“Kami terhadang angit ribut di tengah jalan, nyaris pecah di Pulau Bintang,” kata Nakhoda Alang alias Qari Abdul Malik.

“Setelah menganang-nganang, masuk sungai penuh deduri-duri lan-kan batan kayu. Perahu saya bocor, perlu suku bulan diperbaiki,”

“Dimana?” tanya saudagar ke Nakhoda Alang lagi, karena kurang jelas. ”Di pulau mana angin ribut itu berhenti?”

“Itu, di pulau banyak batan kayu sebelah barat Pulau Bintang,” tutur Nakhoda Alang “Itu… di Pulau Batan”. Sejak itu, menyebarlah nama pulau di sebelah barat Pulau Bintan, disebut Pulau Batan.

Kapan Pulau Batan ini menjadi Pulau Batam? Penukaran “nun” menjadi “mim” tulisan Arab-Melayu diujung kata “Batan” itu, sudah semakin kabur. Tidak diketahui orang lain. Namun terasa enak diucapkan “Batam” daripada perkataan “Batan”. dan itulah asal usul pulau batam.

Baca juga : Asal usul Salatiga.

Dan itulah kawan Legenda asal usul pulau batam, semoga informasi bermanfaat bagi kamu. Dan jangan lupa untuk tetap bersama kami untuk – kisah menarik lainnya.

About Andika Pratama

Founder dari ilmusaku.com

Exit mobile version