Fakta Sejarah Kerajaan Pagaruyung dan Perang Padri yang Harus Kamu Tahu

Halo sobat, kali ini kita akan membahas tentang fakta sejarah kerajaan Pagaruyung atau Malayapura di Minangkabau, Sumatera Barat. Tentang bagaimana kerajaan ini masih memiliki hubungan dengan Kerajaan Majapahit.

Bagaimana awalnya kerajaan Hindu- Buddha ini berkembang menjadi sebuah salah satu kesultanan Islam besar di pulau Sumatera dan juga penjelasan bagaimana sebuah perang adat dapat menjadi sebuah kunci kemunduran sebuah kesultanan besar Pagaruyung.

Jadi tak perlu menunggu lama, mari kita simak penjelasannya di bawah ini.

Fakta Sejarah Kerajaan Pagaruyung

Pengertian Nama Pagaruyung

Istano Rajo Pagaruyung
Sumber : liputan6.com

Nama Pagaruyung merujuk pada nama sebuah pohon yang disebut pohon Ruyung atau Nibung. Selain itu nama Pagaruyung juga merujuk pada stempel yang dipakai oleh Sultan Alam Bagagar Syah, yang berbunyi :

Jawi : سلطان توڠݢل عالم باݢݢر ابن سلطان خليفة الله يڠ ممڤوڽاءي تختا کراجأن دالم نݢري ڤݢرويڠ دار القرار جوهن برداولة ظل الله في العالم;

Latin : Sulthān Tunggal Alam Bagagar ibnu Sulthān Khalīfatullāh yang mempunyai tahta kerajaan dalam negeri Pagaruyung Dārul Qarār Johan Berdaulat Zhillullāh fīl ‘Ālam

cap mohor Sultan Tangkal Alam Bagagar, (Sudirman, 2014:176-177)

Tapi saat raja pertamanya menjabat yaitu Raja Adityawarman Pagaruyung lebih dikenal dengan nama Kerajaan Malayapura.

Letak Kerajaan Pagaruyung

Kerajaan pagaruyung sendiri merupakan kerajaan yang terletak di batu sangkar, luhak tanah datar, yang mana kerajaan pagaruyung sendiri pernah menguasai seluruh alam minangkabau.

Alam Minangkabau terdiri dari Pesisir, Darat, dan Rantau. Darat, yang merupakan kekuasaan inti dari Pagaruyung atau Melayupura terbagi menjadi tiga luhak, yakni Luhak Agam (sekeliling Bukit Tinggi), Luhak Tanah Datar (Selingkar Batusangkar), dan Luhak Lima Puluh Kota (sekitar Payakumbuh).

Awal Berdirinya Kesultanan Pagaruyung

Kerajaan Melayupura/ Pagaruyung didirikan oleh Raja adityawarman pada tahun 1347 M. yang mana Adityawarman merupakan putra dari dari seorang Rakryan Mahamantri (Putra Mahkota) dari kerajaan Singosari bernama adwayawarman dan ibu adityawarman bernama dara jingga, putri dari kerajaan Dharmasraya. (Prasetyo 2009:59)

Raja Adityawarman sendiri adalah seseorang yang awalnya diutus oleh kerajaan Majapahit ke Minangkabau untuk menaklukkan Sumatera, meski akhirnya Adityawarman menyatakan diri Merdeka dari Majapahit dengan mengirimkan utusan ke dinasti Ming yang terukir dalam Prasasti Amoghapasha dan Prasasti Batu Sangkar.

Menurut prasasti kuburajo I, adityawarman menyebut dirinya sebagai raja tanah kanaka. Ia menyebut dirinya sebagai keturunan Dewa indra serta titisan dewa sri lokeswara. Adityawarman menjadi raja di kerajaan Melayupura yang awalnya berpusat di dharmasraya, Kemudian pusat kerajaan dipindahkannya ke daerah pedalaman Minangkabau.

Tapi sejarah terputus saat Adityawarman moksa dan digantikan anaknya ananggawarman karena belum banyak ditemukannya bukti fisik dan sejarah. sejarah mulai kembali terdengar dari kerajaan ini pada abad ke-16, saat masuknya pengaruh Islam di Minangkabau.

Bukti Keris Curik Simalagiri yang diwariskan kepada raja – raja Minangkabau seterusnya menjadi bukti hubungan antara Kerajaan Adityawarman dan Sultan Pagaruyung yang memeluk Islam.

Baca juga : Fakta Kerajaan Majapahit.

Kehidupan Beragama di Pagaruyung.

Pengaruh Hindu-Buddha

Pengaruh Hindu-Buddha mulai ada di Sumatera sejak kerajaan Sriwijaya berkuasa tepatnya pada awal abad ke 7 Masehi. Selain itu ekspedisi Pamalayu dari kerajaan Singasari dibawah Raja Kertanegara juga semakin memperkuat pengaruh Hindu-Buddha di sana.

Selain itu Adityawarman menyebut dirinya sebagai keturunan Dewa matahari Indra dan anaknya Ananggawarman dalam prasasti Batusangkar melakukan ritual hevajra dalam tradisi agama Buddha saat akan menggantikan ayahnya.

Pengaruh Islam

Menurut Hamka (1976) sejak tahun 684M, sudah didapati perkampungan Arab di Minangkabau dan nama “Pariaman” berasal dari bahasa Arab yang berarti tempat yang aman.

Berbeda dengan pendapat Hamka, Ismail Yakoeb menyebutkan jika Islam masuk Minangkabau melalui di jalur yaitu melewati selat Malaka dan kedua melalui Aceh melalui pesisir barat Sumatera Barat, yang kala itu Aceh dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda (1607 -1603)

Salah satu murid ulama Aceh yang terkenal Syaikh Abdurrauf Singkil (Tengku Syiah Kuala), yaitu Syaikh Burhanuddin Ulakan, adalah ulama yang dianggap berjasa dalam penyebaran agama Islam di Pagaruyung. Dan diantaranya yang menjadi murid beliau adalah tokoh paling disegani di Pagaruyung bernama Tuanku Nan Tuo atau biasa di kenal sebagai Tuanku Nan Koto.

Pengaruh Islam di Pagaruyung pun mulai tumbuh pesat dan berkembang kira-kira pada abad ke-17. Hingga akhirnya Pagaruyung berubah menjadi Kesultanan Pagaruyung. Sultan Pagaruyung yang pertama dalam tambo adat Minangkabau bernama Sultan Alif.

Dikarenakan masuknya Islam itu terjadi banyak perubahan di tanah Minang, mulai dari berbagai adat istiadat dan kebiasaan hidup dan tradisi Hindu-Buddha mulai di tinggalkan.

Dari catatan Tome Pires, Kekuasaan Pagaruyung terbagi menjadi tiga yaitu Raja Dunia (Sultan), Raja Adat (Pemangku adat) dan Raja Agama (yaitu pemangku agama).

Hal ini pun yang menjadi benih dan memantik terjadinya pergesekan antara kaum Ulama dan Kaum adat. Hingga terjadilah peristiwa Perang Padri.

Baca juga : Kesultanan Aceh

Kehidupan Sosial dan Ekonomi

Kekuasaan Pagaruyung terbagi oleh beberapa wilayah – wilayah kecil yang disebut oleh Nagari atau negeri dimana negeri – negeri ini dipimpin oleh pimpinan adat (Raja adat) atau pun Raja Agama.

Fungsi Sultan disini berguna sebagai penengah dan penjaga jika terjadi adanya perselisihan diantara para negeri.

Sedangkan dalam masalah ekonomi, Rakyat Sumerta Barat sampai saat ini banyak hidup dengan cara bertani, mulai dari kayu manis, tembakau, palem, karet dan lainnya. Selain itu mereka terkenal dengan hasil pahatan dan tenunan, juga mereka mengimpor emas keberbagai tempat di Asia.

Perang Padri

Sejak awal abad ke-16 sampai awal abad ke-19 itu di daerah Minangkabau, Senantiasa terdapat kedamaian sama-sama saling menghargai antara Kaum Adat dan Kaum Agama antara hukum adat dan syariat Islam hingga akhirnya tercetus dalam Pepatah Minangkabau “Adat bersandi Syara, Syara bersandi Adat.” yang artinya adat yang didasarkan/ditopang oleh syariat agama Islam yang syariat tersebut berdasarkan pula pada Al-Quran dan Hadist.

Hingga pada tahun abad ke-19, muncul gerakan baru di Sumatera Barat dipengaruhi oleh gerakan Wahabi dari Arab Saudi hingga terjadi perselisihan antara Kaum Padri (Ulama) dan Kaum Adat yang masih keluarga bangsawan di Pagaruyung.

Hal ini sebenarnya berawal karena Kaum Padri menganggap beberapa kebiasaan para bangsawan di sekitar istana melanggar syari’at Islam.

Kebiasaan yang dimaksud seperti perjudian, penyabungan ayam, penggunaan madat, minuman keras, tembakau, sirih, dan juga aspek hukum adat matriarki dalam urusan warisan, serta longgarnya pelaksanaan kewajiban ritual formal agama Islam meski para kaum adat memeluk agama Islam.

Tidak adanya kesepakatan antara kedua belah pihak menjadi awal terjadinya konflik pada tahun 1803.

Hingga tahun 1833, perang ini dapat dikatakan sebagai perang saudara antara sesama orang Minang dan Mandailing. Hingga pada akhirnya kamu adat yang merasa tersesat oleh serangan kaum Padri meminta bantuan dari Belanda yang membuat masalah menjadi besar dan menjadi awal keruntuhan Kerajaan Pagaruyung.

Baca juga : Mataram Islam

Keruntuhan Pagaruyung.

Tuanku imam Bonjol
Sumber : pinterest.com

Sebenarnya Kekuasaan Kerajaan Pagaruyung sudah mulai lemah sebelum terjadinya perang Padri. Daerah-daerah di pesisir barat jatuh ke dalam pengaruh Kesultanan Aceh dan beberapa negara dibawah Pagaruyung mulai seperti Indragiri memilih untuk merdeka.

Tapi Perang Padri menjadi sebuah hantaman keras bagi kerajaan Islam satu ini. Apalagi setelah terlibatnya negara – negara barat dalam konflik keluarga ini.

Awalnya perjanjian antara Belanda dan kaum adat terjadi setelah peristiwa pada tahun 1815, saat kaum Padri dibawah pimpinan Tuanku Pasaman menyerang ibu kota dan berhasil membakar istana yang menyebabkan Sultan Arifin Muningsyah harus melarikan diri ke Jambi.

Bahkan ketika Gubernur Jendral Hindia saat itu dibawah pemerintah Inggris, Sir Stanford Raffles mengunjungi ibukota Kesultanan Pagaruyung terbakar dan luluh lantah karena peperangan.

Pada tanggal 10 Februari 1821 Sultan Tangkal Alam Bagagarsyah, yaitu kemenakan dari Sultan Arifin Muningsyah yang berada di Padang, beserta 19 orang pemuka adat lainnya menandatangani perjanjian dengan Belanda untuk bekerja sama dalam melawan Kaum Padri.

Berdasarkan perjanjian ini, Belanda menganggap jika telah terjadi penyerahan kekuasaan ke tangan Belanda. Setelah itu mulai sering tercetus pertempuran-pertempuran yang didalangi Belanda untuk memecah-belah sesama suku bangsa di Sumatera Barat.

Hingga pada tahun 1824, Belanda berhasil merebut ibu kota dari tangan Kaum Padri. Sultan Arifin Muningsyah kembali ke Ibukota namun wafat tahun berikutnya. Hingga digantikan oleh Sultan Tangkal Alam Bagagarsyah. Tapi Pemerintah Belanda menolak dan malah menjadikannya sebagai Regent Tanah Datar.

Hal ink yang membuat keinginan Sultan Tangkal Alam Bagagarsyah untuk mengusir penjajah dari tanah Minang. Selain itu perlawanan hebat dari kaum Padri dibawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol membuat Belanda kewalahan.

Hingga akhirnya pada tanggal 15 November 1825, dibuatlah sebuah perjanjian perdamaian antara Kaum Padri dan Belanda yang saat itu tengah melawan Perang Diponegoro yang membuat mereka kehabisan dana dan tenaga.

Saat perjanjian perdamaian ini terjadi konsolidasi antara kaum Padri dan Kaum adat dan bersekutu secara rahasia untuk mengusir penjajah.

Maka terjadilah Perang Padri jilid kedua antara Bangsa Pagaruyung (Kaum Padri dan Kaum Adat) melawan kekuasaan Belanda yang telah menyelesaikan peperangan hebat dalam Perang Diponegoro.

Kaum Padri dan Adat melakukan serangan secara gerilya yang awalnya terlihat berhasil, sampai Gubernur Belanda saat itu Van den Bosch mengirimkan pasukan tambahan Belanda yang datang langsung dari Jawa.

Sultan Tangkal Alam Bagagarsyah pun ditangkap dan diasingkan ke Batavia dengan tuduhan makar dan penghianatan. Sedangkan kaum Padri terus melakukan perlawanan dibawah Tuanku Imam Bonjol.

Perlawanan terus terjadi dan sengit hingga mendesak kaum Padri ke Benteng Bonjol. Hingga akhirnya Frank David Cochius seorang ahli perang Belanda berhasil menundukkan Benteng Bonjol dengan strategi Benteng Stelstel.

Tuanku Imam Bonjol menyerah kepada Belanda pada Oktober 1837, dia diasingkan ke Cianjur pada akhir tahun 1838, ia kembali dipindahkan ke Ambon. Setelah berpindah – pindah pengasingan beliau meninggal di Minahasa pada tahun 1864.

Sejak saat itulah Kerajaan Pagaruyung jatuh ke tangan Belanda dan Sultan Selanjutnya Tuan Gadang hanya menjadi seorang Regent Tanah Datar. Hal ini yang akan memicu pemberontakan di kemudian hari.

Peninggalan Kerajaan Pagaruyung.

Ada beberapa peninggalan kerajaan Pagaruyung yang masih bertahan Contohnya :

Arca Amoghapasha

Arca Amoghapasha
Sumber : Wikipedia.com

Prasasti Batu Sangkar

Prasasti Batu Sangkar
Sumber : Wikipedia.com

Keris Curik Simalagi

Keris Curik Simalagi

Prasasti kuburajo I

Prasasti kuburajo
sumber : Wikipedia.com

Makam Raja Pagaruyung

Makam Rajo Pagaruyung
Sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id

Dan itulah kawan fakta sejarah kerajaan Pagaruyung semoga informasi ini bermanfaat bagi kamu. Dan jangan lupa untuk tetap melestarikan budaya Indonesia.

Sampai jumpa di info menarik dan bermanfaat lainnya.

Sumber :

  • Historia.com
  • museumadityawarman.org
  • https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/
  • Sudirman, Adi. 2014. Sejarah Lengkap Indonesia. Jogjakarta: DIVA PresS
  • Prasetyo, Deni. 2009. Mengenal Kerejaan-Kerajaan Nusantara. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Andika Pratama
Andika Pratama

Founder dari ilmusaku.com