Kisah Legenda Cinderalas, Dari Jawa Timur

Halo sobat, hari ini kita akan membahas tentang kisah Legenda dari Jawa timur yaitu Legenda Cinderalas, yang berkisah tentang perjuangan seorang mendapatkan pengakuan dari Orangtuanya.

Kisah ini telah ada sejak zaman dahulu kala, dan berpusat di kerajaan Jenggala dan bercerita tentang sebuah perjuangan seorang anak mencari orang tuanya yang asli. Mudah – mudahan dari kisah ini kita bisa belajar tentang bagaimana sebuah perjuangan dan keberuntungan.

Mudah – mudah setelah mendengar kisah ini, kita bisa belajar banyak ya sobat, untuk itu mari kita dengarkan sama – sama kisahnya.

Kisah Legenda Cinderalas, Dari Jawa Timur

Awal Cerita Cinderalas.

sumber : ceritarakyatsingkat.blogspot.com

Pada zaman dahulu kala, di Jawa timur terdapat dua kerajaan kembar yang bersaing satu sama lain untuk menjadi penguasa daerah Kediri, kerajaan itu adalah kerajaan Panjalu dan Jenggala.

Kerajaan Jenggala saat itu dipimpin oleh seorang Raja bernama Raden Putra. Raden putra dikenal sebagai raja yang baik, meski dia memiliki kebiasaan buruk yaitu suka berjudi apalagi judi sabung ayam.

Raden Putra memiliki satu orang permaisuri yang dikenal karena kebaikannya dan seorang selir yang terkenal selalu iri pada istri pertama sang Raja.

Meski Raden Putra sangat menyayangi istri keduanya itu, Tapi Si Selir yang punya sifat iri dengki tahu jika anaknya tak mungkin jadi Raja. Apalagi saat itu Permaisuri tengah mengandung anak dari Raden Putra.

Awalnya Raden Putra hidup bahagia bersama kedua istrinya itu, tapi beliau tidak mengetahui jika selirnya memiliki sebuah rencana busuk untuk menyingkirkan Permaisuri, tujuannya tentu saja karena dia ingin menjadi seorang Permaisuri.

Untuk itu dia merencanakan sebuah siasat busuk bersama seorang Tabib Istana.

Sang Selir Jatuh Sakit, Permaisuri Diusir dari Istana

Suatu pagi, Istana tiba – tiba geger, semua pelayan Istana sibuk karena mendapatkan berita bahwa Selir Raja tiba – tiba jatuh sakit. Raden Putra yang sangat menyayangi istrinya lalu memanggil tabib istana.

Setelah memeriksa sang selir, tabib tersebut menghadap sang raja dan mengatakan bahwa ada orang yang telah menaruh racun dalam minuman sang Selir.

Mendengar hal itu Raden Putra murka, ada orang yang berani menyakiti diri istri kesayangannya. Lalu Raden Putra berjanji akan menghukum siapa saja yang meracuni istrinya itu.

” Maaf Tuan Saya tahu Siapa yang Berani Meracuni Sang Selir.” Ucap Sang Tabib.

Lalu Sang Tabib menyebutkan nama Permaisuri, Kemarahan Raden Putra pun kian menjadi dia memanggil Patih untuk menghadap dirinya, lalu dia menyuruh sang Patih untuk menghukum Permaisuri.

Awalnya Sang Patih mencoba meyakinkan Paduka untuk memaafkan Permaisuri yang tengah mengandung itu, Tapi amarah Sang Raja sudah memuncak.

Beliau tidak tahu jika Tabib itu sudah bersiasat bersama si Selir yang jahat.

Baca juga : Legenda Sangkuriang

Permaisuri Kabur dari Istana

Sang Patih tidak segera menghukum mati Permaisuri, dia membawa permaisuri yang sedang mengandung itu ke tengah hutan belantara.

Rupanya sang patih sudah mengetahui niat jahat selir Raja.

“Baginda Ratu tak usah khawatir, hamba akan melaporkan kepada Baginda Raja bahwa Baginda Ratu sudah hamba habisi,” kata sang patih.

Permaisuri yang sudah awalnya sudah pasrah, langsung berterima kasih pada sang Patih dan pergi ke dalam hutan.

Untuk mengelabui Baginda raja, sang patih baik hati itu melumuri pedangnya dengan darah kelinci. Sang Selir pun sudah merasa puas ketika sang patih melaporkan kematian permaisuri kepada Raja.

Cinderalas dan Ayam Jantan.

sumber : phys.org

Setelah beberapa bulan tinggal di dalam hutan, sang permaisuri akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki. Anak laki – laki itu dia beri nama Cindelaras.

Anak itu pun tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan tampan, dia orang yang supel dan mudah bergaul bahkan Sejak kecil ia sudah berteman dengan semua binatang penghuni hutan.

Suatu hari, ketika sedang asyik bermain, seekor rajawali menjatuhkan sebutir telur ayam. Cindelaras yang merasa kasihan kemudian mengambil telur itu dan bermaksud untuk meneteskannya.

Setelah 3 minggu, telur itu pun akhirnya menetas menjadi seekor anak ayam yang sangat lucu. Dia lalu memelihara anak ayamnya dengan baik. Tanpa dia sadari kian hari – kian lama anak ayam itu tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang gagah dan kuat.

Tetapi meski terlihat seperti ayam jantan biasa, Ayam itu memiliki keanehan dari ayam jago yang lain. Jika biasanya ayam jago akan berkokok seperti suara ayam lainnya’.

Bunyi kokok ayam terdengar seperti berbicara. “Kukuruyuk… Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra…”, kokok ayam itu.

Mendengar Kokok ayam itu, Cinderalas pun menceritakan pada ibunya dan ibunya pun akhirnya menceritakan kisah tentang ayahnya.

Baca juga : cerita asal usul Salatiga.

Cerita Cinderalas Bertemu dengan Ayahnya

Mendengar cerita ibundanya, dia pun bertekad untuk ke istana untuk bertemu sang ayah dan membuktikan jika ibunya tidak bersalah sambil membeberkan kejahatan selir.

Setelah mendapat restu dari ibunya, Cindelaras pun pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya itu. Ketika dalam perjalanan dia melihat orang – orang berkumpul di tengah alun – alun istana.

Ternyata tengah ada pertandingan Sabung ayam yang menjadi kegiatan sehari – hari rakyat karena hobi sang Raja.

Melihat dia membawa Ayam Jantan, Para penyambung ayam lalu menantang Cinderalas untuk menguji ayamnya di arena dan tentu saja dia setuju.

Ternyata ayamnya bukanlah ayam biasa, semua ayam di kerajaan Jenggala takluk oleh keperkasaan ayam dari Cinderalas.

Berita tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar dengan cepat hingga sampai ke Istana. Raden Putra akhirnya pun mendengar berita itu. Kemudian, Raden Putra menyuruh hulubalangnya untuk mengundang anak yang memiliki ayam perkasa itu ke istana.

“Hamba menghadap paduka,” kata anak lelaki itu dengan sopan dihadapan Raden Putra.

Melihat kesopanan, perawakan dan wajahnya yang tampan Raja langsung tahu jika anak itu bukanlah anak biasa.

Baca juga : Legenda asal usul kota Pandeglang

Ketika Ayam Cinderalas Mengalahkan Ayam Raja.

” Anak muda banyak yang bilang jika ayam milikmu adalah ayam paling hebat di negeri ini.” Tanya Raden Putra.

” Betul yang mulai, tak ada satupun yang bisa mengalahkan ayam ini.” Ucap Cinderalas.

” Maukah kamu mengadu ayam milikmu dengan milikku.” Tanya Sang Raja,

” tapi dengan satu syarat, jika kamu menang satu permintaanmu akan ku kabulkan, tapi jika kamu kalah, kamu akan di hukum pancung.”

anak itu pun dengan percaya diri menyanggupi.

Lalu raja menyuruh Patih membawakan ayam jago miliknya yang terkenal gagal dan terkalahkan, untuk menghadapi ayam dari Cinderalas. Dua ekor ayam itupun bertarung dengan gagah berani di arena.Tetapi dalam waktu singkat Ayam milik Raja harus mengalami kekalahan.

“Baiklah aku mengaku kalah. Aku akan menepati janjiku. Tapi, siapakah kau sebenarnya, anak muda?” Tanya Baginda Raden Putra.

” Kamu terlihat sangat berbudi untuk anak yang datang dari hutan.” Katanya lagi.

Lalu Cinderalas membisikan sesuatu pada sang Ayam, dan ayam itupun langsung berkokok yang membuat Sang Raja terperangah tak percaya.

Kukuruyuk… Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra…,” ayam jantan itu berkokok berulang-ulang.

Cinderalas kembali ke Istana

Raja yang terheran langsung terduduk lesu di berkata.

“Benarkah itu?” Tanya baginda Raja keheranan.

“Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba adalah istri Baginda, Permaisuri.” kata anak itu dengan tegas.

Bersamaan dengan itu, sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa yang sebenarnya telah terjadi pada permaisuri. Dia juga ternyata sudah mengumpulkan berbagai bukti kecurangan yang dilakukan oleh sang selir dan Tabib Istana.

“Aku selama ini telah melakukan kesalahan besar,” kata Baginda Raden Putra, sambil menangis ” aku telah menghukum yang salah.”

Lalu Sang Raja menyuruh untuk Sang Patih untuk menyeret Selir kehadapannya.

“Aku akan memberikan hukuman yang setimpal kepadamu, Patih, segera usir wanita ini dari istana.” Ucap sang Raja.

Kemudian, Sang Selir Raja yang iri dengki itu pun di buang ke hutan. Raden Putra yang merasa bersalah segera memeluk anaknya dan meminta maaf atas kesalahannya.

Dia pun dengan segara menyuruh Patih dan hulubalang istana segera menjemput permaisuri dari hutan. Akhirnya mereka pun hidup bahagia.

Setelah Raden Putra meninggal dunia, Cindelaras menggantikan kedudukan ayahnya. Ia memerintah negerinya dengan adil dan bijaksana.

Baca juga : Legenda Danau Toba.

Dan itulah kawan kisah legenda Cinderalas, semoga menghibur dan memberikan inspirasi dan pelajaran hidup. Agar kita tetap bersyukur dan berhenti iri dan dengki kepada orang lain.

Sampai jumpa di cerita menarik lainnnya.

About Andika Pratama

Founder dari ilmusaku.com

Exit mobile version