Legenda Malin Kundang, Si Anak Durhaka

Halo sobat kali ini kita akan belajar tentang kisah legenda Malin Kundang, si anak Durhaka. Yang menjadi Cerita rakyat populer dari Sumatera Barat dan menjadi cerita turun-temurun yang bahkan sering kita saksikan dalam film – film populer.

Kisah ini juga terkenal di luar Indonesia loh! Tepatnya di Malaysia dan Singapura dengan nama Legenda Si Tanggang dan Nakhoda Manis (Brunei), masing – masing memiliki sedikit perbedaan cerita, tapi memiliki tema dan alur yang sama.

Kisah legenda Malin Kundang ini sendiri bercerita tentang bagaimana cinta seorang ibu yang tulus kepada anaknya di balas dengan air tuba, hanya karena rasa malu si anak pada kondisi ibunya.

Untuk mengetahui kisahnya, mari kita simak sama – sama ceritanya.

Legenda Malin Kundang, Si Anak Durhaka

Awal Kisah Malin Kundang

sumber : freepik.com

Bermula di sebuah perkampungan nelayan di Pantai bernama “Air Manis” yang terletak di daerah Padang, Sumatera Barat. Hiduplah seorang janda bernama ibu Mande Rubayah yang tinggal bersama anak laki-lakinya yang bernama Malin Kundang.

Meski memiliki anak yang berusia sangat muda, Usia Ibu Mande Rubayah sendiri sudah sangat tua. Tapi meski begitu dia masih mampu bekerja sebagai penjual kue untuk mencukupi kebutuhan dirinya dan anaknya.

Meski mereka miskin, keduanya hidup berbahagia. Apalagi Mande Rubayah dikenal di kampung karena sangatlah menyayangi dan memanjakan anaknya satu – satunya itu.

Pernah suatu hari, Malin jatuh-sakit. Sakit yang amat keras, nyawanya hampir melayang namun berkat usaha keras ibunya, Malin kecil berhasil sembuh. Karena itulah Malin tumbuh menjadi seorang anak yang rajin dan penurut.

Baca juga : 3 Contoh Hikayat.

Malin dewasa ingin merubah nasib

Karena kasih sayang dari ibunya itu, Malin pun tumbub menjadi remaja yang kuat dan sehat, dia juga terkenal pintar karena ibunya mengajarinya membaca dan berhitung, yang terhitung sangat jarang untuk remaja di kampungnya yang lebih memilih untuk menjadi nelayan.

Malin yang tumbuh dewasa mulai merasa kehidupan mereka terlalu menyedihkan. Dia merasa berhutang budi pada ibunya yang sudah berusaha keras untuknya. Hingga dia memutuskan untuk mencari pekerjaan agar dapat membantu ibunya bekerja.

Hingga dia melihat banyak sekali kapal besar bersandar di lekas pantai dekat rumahnya. Kapal Besar itu membawa berbagai macam barang yang mewah dan berbeda dari apa yang pernah Malin lihat sepanjang hidupnya.

Saat itu Pantai Air Manis tempat Malin tinggal dikenal sebagai tempat Transit kapal – kapal dari negeri seberang yang akan berjualan di tanah Jawa.

Melihat pemandangan itu membuat dia memantapkan diri untuk pergi merantau dengan berlayar menuju negeri sebrang.

Dia pun meminta izin kepada ibunya untuk pergi merantau, karena saat itu sedang ada kapal besar merapat di Pantai Air Manis.

“Jangan pergi Malin, ibu takut terjadi sesuatu di tanah rantau sana. Menetaplah saja di sini, temani ibu,” ucap ibunya.

Tapi Malin yang sudah bertekad kuat untuk pergi tak bisa dilarang, semangat dan permohonan dari anaknya itu yang membuat ibu Mande Rubayah luluh dan mengijinkan anak satu – satunya itu untuk pergi berlayar.

” ibu izinkan kamu pergi nak. Tapi cepatlah kembali, ibu akan selalu menunggumu Nak,” kata ibunya sambil menangis.

” Saya berjanji, untuk kembali membawa kebahagiaan untuk ibu.” Janji Malin.

Setelah itu berangkatlah Malin Kundang perantauan meninggalkan ibunya seorang diri.

Baca juga : Legenda Pesut Mahakam.

Perjuangan Malin di perantauan

Sumber : freepik.com

Di tengah lautan, tiba-tiba kapal yang ditumpangi Malin diserang oleh kapal bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang dicuri, beberapa kru dan kru kapal dibunuh dan sebagian lagi di buang ke laut.

Beruntung bagi Malin, nyawanya tertolong. Karena dia berhasil lolos dari serangan Bajak laut dengan dengan menaiki sekoci kecil.

Tapi lautan luas terlalu keras bagi Malin, sekoci di hempas oleh ombak besar hingga dia terdampar di sebuah pantai. Beruntungnya bagi Malin dia masih selamat. Dan dengan tenaga tersisa, Malin Kundang berjalan kaki menuju desa terdekat untuk meminta pertolongan.

Ternyata, Desa tempat Malin terdampar merupakan desa yang sangat subur. Hingga tak sulit bagi Malin mendapatkan pekerjaan di tempat seorang saudagar kaya di desa tersebut.

Malin mendapatkan pekerjaan di tempat saudagar kaya itu karena kemampuannya dalam membaca dan berhitung yang telah di ajarkan sejak kecil oleh ibunya.

Dengan keuletan dan ketekunannya bekerja, Malin pun berhasil diangkat menjadi menantu pengganti sang saudagar kaya dan menikahi anak sang saudagar.

Hingga akhirnya, anak dari wanita tua yang dulu miskin berubah menjadi saudagar kaya yang memiliki kapal dagang besar dan memiliki 100 orang pekerja di dalamnya.

Kesuksesannya itu menjadi legenda di mulut para pedagang hingga kisahnya terdengar sampai di tempat ibunya berada.

Ibu yang selalu setia menunggu anaknya pulang

Hari-hari demi hari berlalu begitu saja bagi Mande Rubayah. Dia dengan setia menunggu kedatangan anak kesayangan Malin dari perantauan.

Setiap pagi dan sore dia memandang ke laut sambil berkata dalam hati, “Sudah sampai manakah kamu berlayar Nak?” tanyanya.

Dia bahkan menyempatkan untuk selalu bertanya ke setiap kapal yang datang berkunjung ke pantai tempatnya berada untuk menanyakan keadaan anaknya, tapi tak ada orang yang mengetahui keberadaan anaknya.

Bertahun-tahun menanti membuat tubuh Mande Rubayah berubah semakin renta. kini tubuhnya mulai bungkuk dan melemah. Tapi dia tetap sabat menunggu kedatangan anaknya tercinta.

Sampai suatu ketika, sebuah kapal besar datang mengunjungi Pantai Air Manis membawa kabar gembira.

“Mande, tahukah kau, anakmu kini telah menikah dengan putri seorang putri saudagar kaya dan sekarang memiliki kapal yang besar,” ucap sang Nahkoda kapal.

Berita itu membawa angin segar bagi Mande Rubayah yang hanya berharap anaknya untuk cepat pulang kembali kepadanya.

“Malin cepatlah pulang kemari Nak, ibu sudah tua Malin, kapan kau pulang…,” rintihnya pilu.

Sepertinya doanya kali ini terdengar oleh Tuhan, hingga keesokan harinya terdengar kabar jika sebuah kapal besar akan merapat di pantai membawa serta keluarga bangsawan dari negeri seberang.

Malin malu untuk akui ibunya.

Ketika kapal itu mulai merapat, terlihat sepasang muda mudi berpakaian mewah berdiri di anjungan. Pakaian mereka berkilauan terkena sinar matahari. Wajah mereka cerah dan seluruh tubuh mereka dihiasi oleh perhiasan emas.

Melihat kedatangan kapal besar yang membawa bangsawan itu, membuat seluruh warga di Pantai Air Manis berkumpul di dermaga.

Mande Rubayah yang mendengar berita kedatangan kapal Bangsawan juga ikut berdesakan mendekati kapal itu. Saat dia mendekati kapal itu terkejutlah ia menemukan jika di kapal itu ada sosok yang dikenalnya yaitu anaknya Malin Kundang.

Saat itu juga, saat Sang Bangsawan menemui ketua Desa yang tengah berdiri menyambutnya, Ibu Mande Rubayah langsung memeluk Malin dari belakang.

“Malin, anakku. Kau benar anakku kan?” katanya menahan isak tangis gembira, “Mengapa begitu lamanya kau tidak memberi kabar Nak, Ibu Rindu.” ucap sang ibu.

Malin pun terkejut, karena tiba – tiba saja dia dipeluk oleh seorang wanita tua renta, dia tak mengira jika wanita itu adalah ibunya. Sebelum dia sempat berpikir berbicara, istrinya yang cantik yang tengah berada di sampingnya meludahi dan mendorong wanita tua itu.

“Wanita jelek ini ibumu? kau bohong padaku!” ucapnya sinis, “Bukankah dulu kau berkata jika ibumu adalah seorang bangsawan sepertiku.” kata istrinya pada Malin.

Malu mendengar kata-kata pedas istrinya dan tatapan orang – orang disekitarnya. Malin Kundang langsung mendorong ibunya hingga terguling ke tanah.

“ Dasar Wanita gila! ” ucapnya kasar. ” Pergi dari hadapanku, aku bukanlah anakmu.”

Seperti tak percaya atas perlakuan anaknya sendiri, Mande Rubayah terus menerus memanggil anaknya itu sambil menangis, “Malin, Malin, anakku. Aku ini ibumu, Nak!

“Hai, wanita gila! lbuku tidak Miskin dan Kotor, seperti engkau!” kata Malin sambil menendang ibunya.

Mande Rubayah pun terkapar di pasir. Dia menangis, dan sakit hati. Orang-orang yang melihatnya ikut terpana, tapi tak ada satupun yang membantunya, karena takut menyinggung sang Bangsawan.

Mande Rubayah pun pingsan dan terbaring di atas pasir. Dan ia tersadar saat, Kapal yang di tumpangi Malin sudah pergi meninggalkan Pantai Air Manis.

Ibunya yang sakit hati, mengutuk Malin menjadi Batu

sumber : merdeka.com

Dengan Hati yang perih dan sakit, Mande Rubayah kemudian berdoa kepada Tuhan yang maha esa, “Ya, Tuhan, kalau memang dia bukan anakku, aku maafkan perbuatannya tadi. Tapi kalau memang dia benar anakku beri aku keadilan, Ya Tuhan!” ucapnya sambil menangis pilu.

Tak lama kemudian cuaca di tengah laut yang tadinya cerah, mendadak berubah menjadi gelap. Sebuah badai besar tiba – tiba datang menyambar kapal yang ditumpangi oleh Malin Kundang dan istrinya.

Esok paginya, setelah badai mulai mereda. Di kaki bukit dekat pantai terlihat kepingan kapal yang telah menjadi batu. Dan di sana ada sebongkah batu yang menyerupai manusia tengah bersujud, dan sosok itu adalah Malin Kundang.

Baca Juga : Legenda Asal Usul Salatiga.

Itulah sobat legenda Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu oleh ibunya karena Durhaka.

Konon disela-sela batu itu berenang-renang ikan teri, ikan belanak, dan ikan tengiri yang kata banyak orang adalah istri yang berubah menjadi ikan sambil mencari keberadaan Malin Kundang.

Konon saat ombak menerjang batu – batu itu, terdengar lolongan minta maaf, yang dipercaya sebagai ucapan maaf dari Malin untuk Ibunya.

Dan itulah kawan kisah Malin Kundang, semoga kita bisa belajar banyak dari kisah Malin Kundang ini, agar kita menjadi anak yang berbakti.

Sampai jumpa di Pembahasan materi menarik lainnya, hanya di Ilmusaku.com

About Andika Pratama

Founder dari ilmusaku.com

Exit mobile version