Legenda Pesut Mahakam, Ikan Langka Sungai Mahakam

Halo sobat kali ini kita akan membahas tentang Kisah Legenda Pesut Mahakam, yang menjadi hewan langka dan dilindungi dari sungai Mahakam yang letaknya di Kalimantan Timur.

Ikan ini dinyatakan hampir punah sebelum akhirnya muncul kembali pada April, tahun lalu. Meski memiliki bentuk menyerupai lumba-lumba, pesut Mahakam tidak seakrab lumba-lumba jika berhadapan dengan manusia. Dan cenderung menjaga jarak.

Hingga kemunculan menjadi sebuah kejadian menarik dan langka. tapi ternyata, kisah legenda Pesut Mahakam ini telah menjadi cerita rakyat yang melegenda di Kalimantan.

Hingga kisahnya menjadi cerita turun-temurun yang mesti dilestarikan.

Legenda Pesut Mahakam, Ikan Langka Sungai Mahakam.

Apakah Pesut Mahakam itu ?

Sumber : kompas.com

Pesut Mahakam adalah sejenis hewan mamalia yang sering disebut lumba-lumba air tawar, mamalia air yang memiliki nama latin Orcaella brevirostris ini statusnya di lindungi oleh undang-undang karena termasuk sebagai hewan langka dan terancam punah.

Pesut Mahakam berasal dari sungai Mahakam, Kalimantan. Seekor hewan endemik Kalimantan, Hingga hanya bisa kita temukan di Kalimantan tepatnya di sungai Mahakam.

Menurut data dilansir kompas.com, jumlah pesut Mahakam yang diketahui sampai saat ini sekitar 80 – 81 saja. Hingga perlu kita jaga dan lindungi keberadaannya.

Baca juga : Legenda Cinderalas

Kisah Pesut Mahakam

Sumber : Tribunnews.com

Awal kisah Pesut mahakam

Pada zaman dahulu di sebuah dusun di tepi sungai Mahakam, ada sebuah keluarga kecil yang hidup berbahagia.

Hiduplah sepasang suami istri yang memiliki dua anak, putra dan putri. Kebutuhan hidup keluarga kecil ini selalu terpenuhi dari hasil kebun yang ditanami berbagai jenis buah-buahan dan sayur-sayuran.

Begitu pula segala macam kesulitan yang datang dalam hidup mereka, dapat diatasi dengan berbagai cara yang bijaksana.

Hidup mereka berubah drastis

Suatu hari, kehidupan keluarga kecil ini berubah saat sang ibu terserang oleh suatu penyakit. Segala macam obat dan berbagai cara telah dicoba, namun penyakit tersebut tak kunjung sembuh sehingga akhirnya sang ibu pun meninggal dunia.

Meninggalnya sang ibu, merubah kehidupan keluarga kecil ini. Mereka mulai larut dalam kesedihan yang mendalam hingga semua urusan mulai tak terurus.

Sang ayah yang dulunya periang dan pekerja keras berubah menjadi pendiam dan pemurung, sementara kedua anaknya selalu diliputi rasa bingung, tak tahu apa yang mesti mereka lakukan.

Keadaan rumah dan kebun pun mulai tak terawat. Hingga membuat resah penduduk desa. Beberapa sesepuh desa akhirnya mencoba menasehati sang ayah agar tidak larut dalam kesedihan, namun nasehat-nasehat mereka tak dapat memberikan perubahan padanya.

Keadaan ini berlangsung cukup lama, hingga orang mulai melupakan keluarga itu.

Panen Raya Tiba

Seperti biasanya setiap tahun untuk merayakan panen Raya diadakan sebuah pesta adat. Berbagai pertunjukan dan hiburan kembali digelar.

Dalam setiap pertunjukan seni saat pesta berlangsung, tersiar kabar jika selalu tampil seorang gadis cantik dan memesona sehingga membuat pemuda-pemuda dusun mabuk kepayang.

Mendengar berita itu, membuat hati sang Ayah tergugah untuk turut menyaksikan kehebatan pertunjukan gadis yang dipuji-puji penduduk dusun hingga banyak pemuda yang tergila-gila.

Sampai di tempat pertunjukan berlangsung, sang ayah dengan sengaja berdiri di depan agar dapat dengan jelas menyaksikan permainan serta wajah sang gadis.

Berbeda dengan penonton lainnya, sang ayah tidak banyak memuji-muji penampilan sang gadis. Walau demikian sekali-sekali ada juga sang ayah tersenyum kecil.

Sang gadis melemparkan senyum manisnya kepada para penonton yang memujinya maupun yang menggodanya hingga akhirnya mata sang gadis bertemu dengan mata si ayah.

Kejadian ini berulang beberapa kali, hingga akhirnya terjalin rasa cinta antara keduanya, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.

Setelah mendapat restu dari sesepuh dan kedua anaknya, akhirnya mereka melangsungkan pernikahan sepekan setelah pesta adat tersebut.

Baca juga : Legenda dari Jawa timur

Kehidupan membaik, hingga Sifat Ibu Tiri keluar

Setelah sang ayah menikah kehidupan keluarga kecil ini pun membaik. Si Ibu Tiri itu jago memasak dan rajin membersihkan rumah. ia juga merawat kedua anak tirinya dengan baik.

Namun keadaan itu tak berlangsung lama. Beberapa tahun kemudian, Sifat asli sang ibu tiri mulai terkuak. Ia kejam dan setiap hari selalu menyuruh kedua anak tirinya untuk bekerja keras.

Sedangkan dia hanya hidup bermalas – malasan, si ayah sebenarnya tahu apa yang terjadi, tapi dia memilih diam saja, karena takut si ibu tiri akan pergi meninggalkannya.

Hingga suatu hari, wanita itu memutuskan untuk berhenti merawat kedua anak tirinya. Jadi, ia menyusun sebuah rencana jahat.

“Kalian harus mencari kayu bakar sebanyak-banyaknya. Jumlahnya harus tiga kali lipat dari yang kalian bawa kemarin! Jangan berani pulang jika belum mengumpulkan kayu sebanyak itu!” perintahnya sang ibu tiri.

Kedua anak itu tak berani membantah, dengan patuh mereka segera berangkat ke hutan. Tapi sayang hingga sore menjelang, mereka tak bisa mendapatkan kayu bakar sebanyak yang ibu tiri mereka inginkan.

Tapi karena mereka tak berani pada si ibu tiri, mereka memutuskan untuk tidak pulang dan menginap di hutan. Untungnya disana, terdapat pondok yang kosong.

Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk tidur, meski, perut mereka keroncongan.

Keesokan harinya, mereka melanjutkan pekerjaan. Tanpa putus asa, mereka terus mengumpulkan kayu bakar hingga akhirnya terkumpul juga. Namun karena mereka sudah kelelahan dan kelaparan, mereka akhirnya pingsan.

Saat mereka tergeletak lemas, muncul seorang kakek tua menghampiri mereka berdua.

“Kalian kenapa? Mengapa wajah kalian pucat sekali?” tanya kakek itu.

Kedua anak itu menceritakan semuanya pada si kakek tua. Dan si kakek yang iba, menunjukkan tempat pohon buah-buahan kepada mereka untuk mengisi perut mereka yang kosong.

Mereka mengikuti petunjuk kakek tersebut dan dengan lahap memakan buah-buahan tersebut. Setelah tenaga mereka pulih, kedua anak tersebut bergegas pulang.

“Ayah, Ibu, kami pulang. Lihatlah kayu yang kami bawa ini, rasanya cukup untuk persediaan satu bulan,” teriak sang kakak laki-laki.

Sementara adik perempuannya sibuk menata kayu di dalam rumah. Namun anehnya, tak ada orang yang membalas sahutan dari sang kakak.

Mereka pun masuk ke rumah tapi mereka mendapati kamar orang tua mereka kosong, beberapa perabot rumah pun telah hilang. Sadarlah mereka, bahwa ayah dan ibu tiri mereka telah pergi meninggalkan mereka.

Mereka menangis sejadi- jadinya. Hingga Para tetangga yang mendengar datang untuk melihat apa yang terjadi.

Mendengar cerita keduanya, para tetangga merasa iba menawarkan untuk tinggal bersama mereka. Namun kedua anak itu menolak. Mereka bersikeras untuk mencari ayah clan ibu tirinya.

Keesokan Harinya

Keesokan harinya, kedua anak itu memulai pencarian. Mereka berjalan keluar masuk desa tanpa kenal lelah. Hingga pada hari ketiga bekal mereka habis, hingga mereka menumpang makan di tempat seorang kakek baik hati.

Si pemilik rumah lalu menanyakan kepentingan mereka berpergian jauh, dan mereka berdua pun menceritakan semua kejadian itu pada si kakek.

“Rasanya Kakek tahu ke mana orangtua kalian pergi. Beberapa hari yang lalu, Kakek melihat seorang pria dan wanita menyeberang sungai. Mereka membawa banyak sekali barang.” kata si Kakek setelah mendengar cerita mereka.

“Benarkah? Kalau begitu, kami harus segera menyeberang sungai, Kek,” jawab si kakak. Si Kakek hati dengan senang hati juga meminjamkan perahunya kepada mereka untuk menyebrangi sungai.

Anak-anak itu bergantian mendayung perahu. Tak terasa, sampailah mereka di sebuah dusun yang sepi. Mereka menyusuri dusun yang sepi itu, sampai akhirnya menemukan sebuah rumah yang sepertinya baru saja dibangun.

Mereka mendekati rumah itu dan memanggil-manggil ayah mereka. Karena tak ada jawaban, mereka memasuki rumah itu. Dan benar saja, di dalam mereka melihat perabotan mereka yang hilang serta baju ayah dan ibu tiri mereka.

Kedua anak itu sangat senang. “Akhirnya kita menemukan orangtua kita, Dik,” kata sang kakak.

“aku senang sekali kakak. Tapi sekarang aku lapar, dan ingin makan,” jawab adik perempuannya.

Mereka pergi ke dapur. “Ah, ini ada sepanci bubur panas. Rupanya Ibu lupa memadamkan apinya,” teriak sang anak perempuan. Cepat-cepat mereka makan dengan lahap tanpa menghiraukan bubur yang panas. Sekejap saja, bubur itu habis tak bersisa.

Setelah makan, kedua anak itu berbaring untuk beristirahat. Namun keanehan terjadi pada diri mereka. Tiba-tiba saja suhu tubuh mereka menjadi panas, sepanas bubur yang baru diangkat dari api tadi.

Karena tak tahan dengan rasa panasnya, mereka Iari ke arah sungai. Sepanjang perjalanan menuju sungai, kedua anak itu memeluk pohon-pohon pisang yang mereka temui.

Mereka berharap, dengan memeluk pohon pisang, panas tubuh mereka akan berkurang. Tapi, tubuh mereka sangat panas. Hingga, daun dan batang pohon pisang yang mereka peluk itu langsung Iayu.

Begitu tiba di sungai, kedua anak itu langsung menceburkan diri.

Sementara itu, ayah dan ibu tiri mereka sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Mereka heran melihat banyaknya pohon pisang yang Iayu.

Sesampainya di rumah, mereka terkejut melihat pintu rumah terbuka. Sang ibu tiri buru-buru memeriksa dapur. Ia berteriak kalau bubur yang ia masak telah habis tak bersisa. Sang ayah yakin, anak-anaknya datang untuk menemuinya. Hingga ia pun pergi mencari mereka.

Pasangan itu berjalan dengan mengikuti arah pohon-pohon pisang yang telah Iayu dan tiba di sungai. Mereka melihat dua ekor ikan yang bergerak ke sana-kemari sambil menyemburkan air dari kepala.

Ia yakin, kedua ikan itu adalah anaknya. Namun ia Iebih terkejut lagi ketika menoleh dan sang istri sudah tidak ada lagi di sampingnya.

Sekarang sadarlah ia, bahwa istrinya bukanlah manusia biasa. Ia menyesal kenapa dulu tidak menanyakan asal-usul istrinya sebelum menikah.

Sejak saat itu, oleh masyarakat setempat, ikan yang menyembur-nyemburkan air itu dinamakan ikan pesut Mahakam.

Baca juga : Legenda Lutung Kasarung.

Dan itulah kawan Legenda Pesut Mahakam, semoga dengan kisah Pesut Mahakam ini menjadi sebuah pembelajaran untuk kita semua.

Semoga bermanfaat dan sampai jumpa di Pembahasan menarik lainnya, hanya di ilmusaku.

About Andika Pratama

Founder dari ilmusaku.com

Exit mobile version