Legenda Sangkuriang, Kisah Awal Mula Gunung Tangkuban Perahu

Halo sobat, hari ini kita akan menceritakan sebuah kisah dari Bandung, Jawabarat. Yaitu legenda Sangkuriang, sebuah kisah yang di percaya oleh masyarakat setempat sebagai kisah awal mula terbentuknya Gunung Tangkuban Parahu.

Legenda Sangkuriang menceritakan kisah seorang pemuda yang jatuh cinta pada ibunya sendiri. Yang kisahnya memiliki sedikit kemiripan dengan sebuah tragedi dari Yunani yaitu Oedipus Rex karya Sophocles.

Referensi tertulis pertama legenda Sangkuriang muncul dalam naskah Pangeran Bujangga Manik yang ditulis di atas daun lontar pada akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16 Masehi.

So, mari kita simak bersama – sama dongeng rakyat Nusantara :

Legenda Sangkuriang dan Awal Mula Gunung Tangkuban Perahu

Dewa dan Dewi yang di hukum

sumber : Wikipedia.com (Gunung Tangkuban perahu)

Alkisah terjadi huru hara di kayangan. Dewa dan Dewi melakukan sebuah “dosa” yang membuat mereka di hukum ke bumi dan menjadi hewan. Sang Dewi menjadi babi hutan bernama Wayung Hyang dan Dewa yang dikutuk menjadi Anjing bernama “Tumang.”

Untuk membayar dosa mereka itu keduanya melakukan kebaikan Wayung Hyang berbuat kebaikan di Hutan sedangkan Tumang menjadi hewan penjaga seorang Raja bernama Sumbing Perbangkara.

Pada suatu hari, Sumbing Perbangkara mengajak Tumang ke hutan untuk berburu. Tapi saat dia akan sampai di tempat babi hutan, dia ingin sekali kencing hingga akhirnya dia buang air di batok kelapa di dekat tinggal babi tersebut.

Wayung Hyang yang sudah menjadi babi, merasa kehausan dan dia meminum air kencing milik sang Raja. Tapi sebuah keajaiban terjadi, Wayung Hyang yang meminum air seni itu langsung hamil.

Sembilan bulan kemudian si babi hutan melahirkan seorang bayi perempuan. Raja Sungging Perbangkara karena kesaktiannya mengetahui perihal adanya bayi perempuan yang terlahir karena air seninya itu dan pergi ke hutan untuk membawa bayi itu pulang ke istana.

Ditemani Tumang, ia akhirnya menemukan bayi perempuan itu. Terpikat oleh keelokan paras bayi itu, Sumbing Perbangkara pun membawanya pulang dan mengangkatnya sebagai anak. Bayi perempuan itu kemudian diberi nama Dayang Sumbi.

Baca juga : Legenda Lutung Kasarung

Dayang Sumbi dan Tumang.

Dayang Sumbi kemudian semakin dewasa dan tumbuh menjadi seorang putri yang berparas elok. Kecantikan tersiar ke segenap penjuru kerajaan hingga didengar raja-raja dan para pangeran. Dayang Sumbi pun diperebutkan oleh banyak orang hingga membuatnya risau.

Untuk itu dia meminta sang ayah untuk pergi menyendiri di hutan. Sumbing Perbangkara akhirnya mengijinkannya dan memberikan Tumang si anjing pemburu untuk menjaga dan menemaninya. Akhirnya sang putri harus tinggal di sebuah gubuk di hutan.

Suatu hari Dayang Sumbi menenun kain, tapi tanpa sengaja gulungan kainnya jatuh ke lantai. Karena malas mengambil gulungan itu, terlontar dari lisannya bahwa siapa saja yang dapat mengambilkan gulungan benang itu, jika perempuan, akan dijadikannya saudara. Namun, jika laki-laki maka akan dijadikan suami.

Di luar dugaan, si Tumang anjing peliharaannya yang mengambilkan gulungan tersebut. Dan karena sudah berjanji, akhirnya Dayang Sumbi menikah dengan Tumang. Tapi setelah dia tahu jika Tumang bukan hewan biasa dia adalah Dewa yang dikutuk menjadi Anjing.

Setiap malam purnama, Tumang dapat menjelma menjadi seorang lelaki yang tampan. Meski begitu Raja yang malu karena tahu anaknya menikah dengan Anjing melarangnya untuk kembali ke istana.

Anak itu Bernama Sangkuriang

Tak lama kemudian Dayang Sumbi hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki yang memiliki Kulitnya putih dengan rambut lebat legam seperti arang. Bayi itu kemudian diberi nama Sangkuriang.

Waktu terus berlalu. Beberapa tahun kemudian terlewati. Sangkuriang tumbuh menjadi seorang pemuda tampan dan Gagah. Tubuhnya kuat dan kekar. Sakti mandraguna dan memiliki kemampuan untuk berburu.

Sangkuriang membunuh ayahnya sendiri.

sumber : ppid.bandung.go.id (Legenda Sangkuriang dan Tumang)

Pada suatu hari, sang ibu meminta anaknya itu untuk berburu rusa, kebetulan ia sedang ingin menyantap hati rusa. Sangkuriang pun mengiyakan, dia pun bersama Tumang pergi ke hutan untuk berburu rusa.

Pada saat mereka berburu, mereka tak dapat menemukan rusa. Hingga Sangkuriang merasa kecewa, tapi kekecewaannya itu terbalas saat dia menemukan seekor Babi Hutan. Yang dia tidak tahu adalah babi hutan itu adalah Neneknya sendiri Dewi Wayung Hyang.

Sangkuriang langsung menyuruh Tumang untuk menangkap babi hutan, tapi Tumang yang tahu siapa babi hutan itu memilih diam saja dan itu membuat Sangkuriang murka. Dia pun membunuh Tumang dan mengambil hatinya untuk dibawa pulang ke rumah.

Dayang Sumbi yang Marah Mengusir Sangkuriang

Dayang Sumbi dengan gembira memasak hati itu, mereka ia makan dengan lahap. Setelah selesai makan, Dayang Sumbi teringat akan Tumang.

Ia pun bertanya kepada Sangkuriang di mana keberadaan Tumang. Sangkuriang tidak bisa berkelit pun akhirnya harus berkata jujur mengakui bahwa Tumang telah tewas karena panahnya dan hatinya telah diserahkan kepada ibunya untuk dimasak.

Mengetahui bahwa yang dimakannya itu adalah hati si Tumang, kemarahannya pun memuncak. Seketika itu, kepala Sangkuriang dipukul hingga terluka dan diusir dari tempat tinggalnya.

Sangkuriang yang merasa kecewa dengan perlakuan ibunya itu pergi mengembara. Setelah kejadian tersebut, Dayang Sumbi menyesali perbuatannya. Dia berdoa kepada dewa untuk meminta petunjuk dan berharap Sangkuriang lekas pulang kembali.

Tapi sang anak tak pernah kembali padanya.

Baca juga : Legenda Malin Kundang.

Sangkuriang Tumbuh Dewasa mengalahkan Guriang

Sangkuriang yang lari dengan kepala terluka mengalami amnesia. Dia mengembara kesana kemari. Waktu berlalu dia berkelana sambil berguru dengan beberapa orang sakti hingga dia memiliki kesaktian yang tiada tara.

ia bahkan mengalahkan semua makhluk-makhluk halus atau Guriang yang ditemuinya dalam pengembaraan. Ia menaklukkan mereka dan dengan kesaktiannya menjadi tuan dari siluman-siluman itu.

Sangkuriang Bertemu Dayang Sumbi

Pada suatu ketika, dalam pengembaraannya Sangkuriang akhirnya bertemu dengan seorang putri di hutan. Putri itu bernama Dayang sumbi.

Sangkuriang yang hilang ingatan terpesona dengan kecantikan Dayang Sumbi, lalu akhirnya jatuh cinta. Perasaan Sangkuriang berbalas. Karena sudah 12 tahun berlalu. Dayang Sumbi sudah melupakan rupa anaknya sendiri dan dia menerima pinangan Sangkuriang.

Sehari sebelum pernikahan yang direncanakan, Dayang Sumbi sedang menyisir rambut Sangkuriang saat mengenali bekas luka di kepala Sangkuriang. Semua bagian jatuh bersama dan dia tiba-tiba menyadari bahwa dia telah jatuh cinta dengan putranya sendiri.

Dayang Sumbi Meminta Sebuah Kapal Raksasa dan Danau.

Dayang Sumbi akhirnya mencoba menjelaskan kenyataan bahwa Sangkuriang adalah putranya. Tetapi Sangkuriang telah kehilangan akal sehat. Sangkuriang tetap memaksa. Akhirnya Dayang Sumbi meminta hal mustahil pada Sangkuriang. Yaitu dia ingin dibuatkan danau lengkap dengan perahunya dalam waktu semalam. Sangkuriang menyanggupi.

Malam itu juga, Sangkuriang bersama para siluman bawahannya membuat sebuah danau dengan.membendung sungai Citarum dengan tanah longsor. Air sungai naik dan memenuhi dataran, mengubahnya menjadi danau. Kemudian, Sangkuriang menyelesaikan bagian kedua dari kondisi Dayang Sumbi dengan menebang pohon besar untuk membuat perahu.

Dia menebang pohon, bekas pohon tebangannya itu berubah menjadi sebuah bukit yang kini dikenal sebagai Gunung Bukit Tunggul, sementara daun, ranting dan bagian kayu lainnya yang tidak terpakai membentuk Gunung Burangrang.

Melihat situasi ini, Dayang Sumbi menjadi ketakutan. Akhirnya ia menebarkan kain-kain hasil tenunannya di arah timur. Dia pun berdoa pada Tuhan agar Keinginan Sangkuriang di gagalkan. Keinginannya terkabul.

Ayam-ayam jantan kemudian berkokok. Kemudian, makhluk-makhluk halus guriang yang membantu pekerjaan Sangkuriang membuat danau mengira hari akan segera pagi dan berlarian tunggang langgang. Sangkuriang pun gagal.

Sangkuriang mengamuk. Sumbat yang dibuatnya untuk membendung Sungai Citarum dibuangnya ke arah timur dan menjadi Gunung Manglayang. Danau yang sudah di buatnya airnya pun menyurut menjadi Talaga Bandung. Lalu kemudian dengan tendangan keras perahu yang dibuatnya menjadi gunung Tangkuban Parahu.

Tapi Sangkuriang tidak berhenti mengejar cintanya. Dia lalu mengejar Dayang Sumbi yang berlari. Dayang Sumbi pun memohon pertolongan Tuhan. Ia pun menjelma menjadi sekuntum bunga jaksi.

Sedangkan Sangkuriang terus mencari Dayang Sumbi hingga sampai ke Ujung Berung dan tersesat ke alam gaib.

Dan itulah sobat kisah Legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi. Semoga kisah legenda Sangkuriang ini dapat memberikan pelajaran berharga bagi kita semua.

Sampai jumpa di dongeng dan legenda menarik lainnya. Sampai jumpa.

About Andika Pratama

Founder dari ilmusaku.com

Exit mobile version