Mengenal Kedatuan Sriwijaya yang Hebat Gemilang

Ilmusaku – Halo sobat, Pada tahun 2019 lalu, Budayawan Ridwan Saidi membuat pernyataan kontroversial, dimana dia menyebut jika kedatuan Sriwijaya itu tak pernah ada.

Tentu saja perkataannya itu dibantah oleh banyak pihak, terutama oleh para peneliti nasional dan bahkan internasional.

Tapi Sobat, Sebenarnya Kerajaan Sriwijaya itu benar atau fiktif sih? Mari kita cari tahu sama – sama.

Apa itu Kedatuan Sriwijaya ?

Kerajaan Sriwijaya adalah Kerajaan Monarki yang berbentuk kedatuan dipercaya berasal dari Swarnadwipa (Sumatra) atau Sumatra Selatan dan lebih tepatnya di Tepi Sungai Musi, kota Palembang dan berdiri pada abad ke 7 Masehi sampai abad ke 12 Masehi.

Pada masanya Kerajaan Sriwijaya disebut sebagai kerajaan maritim terbesar di Nusantara pada masanya dan sudah menjadi pusat pembelajaran dan pengajaran Agama Buddha di Asia Tenggara dan Asia Timur.

Sriwijaya Menurut Bahasa

Menurut bahasa Sansekerta kata Sriwijaya (श्रीविजय) sendiri berasal dari padanan dua kata dalam Sanskerta yaitu Sri (श्री) yang berarti Senang’, ‘beruntung’ atau gemilang dan Wijaya (विजय) yang berarti ‘Kemenangan’ atau ‘Kemuliaan’.

Jadi Sriwijaya bisa berarti ‘Kemenangan Gemilang’ atau ‘Cahaya Kemuliaan’.

Kedatuan Sriwijaya juga dikenal melalui berita dari negeri asing, hingga memiliki banyak sebutan di negara – negara tersebut seperti :

  • Thiripyisaya (သီရိပစ္စယာ) dalam bahasa Burma.
  • SanFoqi atau Shili Foshi (三佛齊) dalam bahasa Mandarin.
  • Sriwijaya (ꦯꦿꦶꦮꦶꦗꦪ) dalam bahasa Jawa.
  • Siwichai ( ศรีวิชัย) dalam bahasa Thailand.
  • Srey Vichey ( ស្រីវិជ័យ) dalam bahasa Khmer.
  • Sriwijaya (ᮞᮢᮤᮝᮤᮏᮚ) dalam aksara Sunda.

Sistem Pemerintahan Monarki Kedatuan.

Dilansir Historia.id, Peneliti Jerman Hermann Kulke dalam tulisannya yang berjudul ‘ Kadatuan Srivijaya, Imperium atau Kraton Sriwijaya” menyebut jika kerajaan Sriwijaya bukanlah Kerajaan yang bersifat Imperium melainkan Monarki kedatuan.

Hal ini juga diamini oleh peneliti dari Universitas Indonesia, Ninie Susanti yang menyebut Sriwijaya adalah Kerajaan Kedatuan yang membawahi banyak Mandala yang Otonom.

Apa itu Kadatuan ?

Datu dalam bahasa Melayu berarti yang dituakan. Jadi di Sriwijaya dipimpin oleh seorang Datu atau Maharaja.

Di Sriwijaya terdiri dari wanua-wanua atau permukiman-permukiman yang dikepalai oleh seorang datu.

Sedangkan Mandala adalah merupakan kawasan otonom dari Kedatuan yang berada dalam kekuasaan kadatuan Sriwijaya.

Semuanya berada dalam kendali kadatuan “pusat” yang dipimpin oleh datu atau Maharaja.

Bukti Sejarah Kerajaan Sriwijaya.

Kerajaan Sriwijaya pertama kali di kemukakan oleh arkeolog dan penulis asal Perancis yang bernama George Cœdes dalam bukunya “Le Royaume de Çrīvijaya” pada tahun 1918.

Juga dari catatan I-Tsing, seorang biksu dari Tiongkok. I-Tsing menulis jika telah tinggal dan berguru ilmu agama Buddha di Shili Foshi atau Sriwijaya sebelum berlayar ke India.

Adanya Korespondensi antara Kedatuan Sriwijaya, melalui Raja Sri Indravarman dan Kekhalifahan Ummawiyah yang dipimpin oleh Umar Abdul Aziz.

Manuskrip Kuno, Carita Parahyangan yang menceritakan tentang Raja Sanjaya yang harus bertempur melawan serangan dari kerajaan Melayu dan Kerajaan Kalingga di India.

Dan Lukisan di komplek Candi Borobudur yang melukiskan Kapal – kapal dari kadatuan Sriwijaya.

Selain itu Kedatuan Sriwijaya meninggalkan beberapa Prasasti bersejarah antara lain :

Prasasti Kedukan Bukit

Sumber : Historia.com

Prasasti menceritakan tentang Raja Pertama Sriwijaya, Daputa Hyang yang melakukan perjalanan suci bersama 20 ribu pasukannya.

Prasasti Talang Tuo

Sumber : wikipedia.com

Prasasti ini disebut Prasasti Talang Tuo karena ditemukan di sebelah barat Kota Palembang di daerah Talang Tuo.

Prasasti ini di tulis dengan bahasa Melayu Kuno, tapi dengan huruf Pallawa.

Prasasti Talaga Batu

Sumber : kebudayaan.kemdikbud.com

Prasasti ini ditemukan di Telaga Batu pada tahun 1935. Berdasarkan tempat penemuannyamaka dinamakan sebagai prasasti Telaga Batu.

Prasasti ini terdiri dari 28 baris yang berisikan tentang kutukan terhadap siapa saja yang melakukan kejahatan di daerah kekuasaan Kadatuan Sriwijaya dan tidak taat kepada perintah Datu.

Prasasti Leiden.

Prasasti Leiden

Prasasti Leiden merupakan manuskrip yang ditulis pada lempengan tembaga berangka tahun 1005 yang terdiri dari bahasa Sanskerta dan bahasa Tamil.

Prasasti ini menceritakan tentang hubungan antara dinasti Sailendra dari Sriwijaya dengan dinasti Chola dari Tamil, selatan India.

Datu yang Berkuasa.

Sriwijaya memiliki banyak sekali Datu atau Raja yang berkuasa, ada yang sudah diketahui ada pula yang masih misteri, nah berikut ini adalah Raja – raja yang di percaya keberadaannya.

  • Daputa Hyang Sri Jayanasa, Datu pertama Sriwijaya dan ditulis di prasasti Telaga batu, bukit kapur dan Talang Tuo.
  • Sri Indravarman, Datu yang menerima perwakilan dari China dan Khalifah Umayyah.
  • Rudra Vikrama, mengirim utusan ke China.
  • Dharma Sethu atau Vishnu, Penakluk Sriwijaya ditulis dalam Prasasti Ligor.
  • Dharanindra atau Rakai Panangkaran, awal membangun Borobudur, Menaklukan Kamboja selatan
  • Samaraghawira atau Rakai Warak, di tulis dalam prasasti Ligor dan catatan dari Arab.
  • Samarathungga atau Rakai Garung, Kehilangan Kamboja, dan menyelesaikan Borobudur.
  • Balaputradewa, Kehilangan Jawa hingga kembali ke Sumatera.
  • Sri Udayaditya Warman, datangnya utusan dari China.
  • Haji Hsa Chi, datangnya utusan China (gelar haji biasanya untuk Dari rendahan)
  • Sri Cudaweni Warmadewa, Adanya serangan dari Raja Medang, Dharmawangsa dan membuat Candi untuk Kaisar China.
  • Sri Mara – Vijayyatunggawarman, Prasasti Leiden.
  • Haji Sumatrabhumi, mengirim utusan ke China.
  • Sangrama Vijayyatunggawarman, diserang Rajengga Chola dari India Selatan lalu dijadikan tawanan, hingga dilepaskan kembali. Sriwijaya jatuh ke tangan Dinasti Chola.
  • Kulothungga Chola 1, Mengirim Utusan ke China.
  • Raja H Tunggavarman,
  • Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa, Dibawah kerajaan Melayu.
  • Sri Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa, Terjadinya ekspedisi Pamalayu.

Kejatuhan Kerajaan Sriwijaya

Ekspedisi Pamalayu

Setelah terpisahnya Balaputradewa dan Rakai Pikatan (Raja Mataram Kuno) Sriwijaya mulai mengalami tanda – tanda kemunduran.

Alasannya adalah Serangan – serangan dari berbagai pihak terhadap Kedatuan Sriwijaya.

Diantaranya :

  • Serangan dari Raja Medang, Dharmawangsa.
  • Serangan kerajaan Chola, hingga membuat di rawannya Datu Sangrama Vijayyatunggawarman.
  • Serangan Kerajaan Melayu (Jambi)
  • Serangan dari Singosari dalam Ekspedisi Pamalayu.
  • Serangan dari Kerajaan Majapahit.

Banyak yang percaya jika Kerajaan Sriwijaya benar – benar berakhir setelah di taklukan oleh Kerajaan Majapahit.

Apakah Kerajaan Sriwijaya Fiksi ?

Melihat banyaknya bukti sejarah seperti prasasti, berita – berita dari negeri asing yang mendukung dan hasil Penelitian dari Arkeolog lokal maupun Internasional, Penulis merasa keberadaan Kerajaan Sriwijaya tak bisa disangkal lagi keberadaannya.

Meski ada pernyataan dari Bapak Ridwan Saidi, perlu banyak penelitian dan bukti – bukti yang cukup untuk mendukung penyataan beliau.

Dan tentu saja bukti itu juga harus dibuktikan dan di depan banyak orang.

Kesimpulan

Dan itulah sobat, hari ini kita mengenal tentang Kerajaan Sriwijaya yang ternyata memiliki perjalanan historis yang sangat panjang dan berliku.

Dan memiliki nilai budaya luhur yang memiliki akar kuat di budaya masyarakat Nusantara khususnya di Sumatera.

Dan terakhir Menurut kalian sependapat dengan pernyataan Bapak Ridwan Saidi tentang kedatuan Sriwijaya ini ?

Itu kembali pada pribadi kita masing – masing.

Sampai jumpa di bahasan menarik lainnya.

About Andika Pratama

Founder dari ilmusaku.com

Exit mobile version