Mengenal Kerajaan Kalingga (Holing) dan Ratu Sima, Sang Ratu Adil

Halo sobat, Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai banyak sekali kebudayaan dan kerajaan kuno yang miliki nilai sejarah tinggi. Salah satunya adalah Kerajaan Kalingga (Holing).

Dengan mengenal kerajaan Kalingga, kamu akan belajar juga akan tentang Ratunya yang melegenda karena rasa keadilannya yang tinggi yaitu Ratu Sima sang ratu adil.

Mari kita mulai saja materinya.

Apa itu Kalingga ?

Kalingga (bahasa Jawa: ꦏꦭꦶꦁꦒ) atau Kerajaan Halong (Bahasa Pekalongan; artinya Banyak Hasil) adalah kerajaan bercorak Hindu-Buddha yang pertama muncul di pantai utara Jawa Tengah pada abad ke-6 Masehi. Bersamaan dengan Tarumanegara dan Kutai Martapura.

Nama Kalingga sendiri berasal dari kata kalinga, nama sebuah kerajaan di india selatan. Hingga banyak peneliti percaya jika kerajaan ini didirikan oleh kelompok bangsawan dari india yang berasal dari daerah orissa, mereka melarikan diri dari orissa karena daerah tersebut dihancurkan oleh Maharaja Asoka.

Sumber sejarah kerajaan ini kebanyakan diperoleh dari sumber catatan Tiongkok, tradisi kisah setempat, dan naskah Carita Parahyangan yang disusun berabad-abad kemudian pada abad ke-16 menyinggung secara singkat mengenai Ratu Shima dan kaitannya dengan Kerajaan Galuh. 

Dimana Pusat Pemerintahan Kalingga ?

Perkiraan Tempat Kerajaan Holing

Lokasi pusat kerajaan ini sebenarnya masih belumlah jelas sobat, tapi para peneliti sepakat jika kemungkinan ibukota kerajaan awal berada di suatu tempat antara Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Jepara.

Meski kemudian terpecah menjadi dua dan ibukota berpindah ke Bhumi Sambhara (diperkirakan di sekitar Magelang dan Borobudur) untuk Kerajaan Keling dan Bhumi Mataram (diperkirakan di sekitar Yogyakarta dan Prambanan) untuk kerajaan Medang (Mataram Kuno)

Apa Agama kerajaaan Holing/ Kalingga ini ?

Kerajaan ini adalah kerajaan yang bercorak Buddha, meski begitu rakyatnya banyak beragama Hindu dan Kejawen.

Apa saja Catatan Sejarah tentang Kerajaan Kalingga ?

Sampai saat ini catatan sejarah kerajaan ini masih sangat langka dan belum jelas, dan sebagian besar berasal dari sumber-sumber Tiongkok dan tradisi lokal dan Cerita Parahyangan yang di tulis pada abad ke-16.

Carita Parahyangan

Berdasarkan naskah Carita Parahyangan, putri Maharani Shima (Ratu Kalingga) Parwati, menikah dengan putera mahkota Kerajaan Galuh yang bernama Mandiminyak, yang kemudian menjadi raja kedua dari Kerajaan Galuh.

Maharani Shima memiliki cucu yang bernama Sanaha yang menikah dengan raja ketiga dari Kerajaan Galuh, yaitu Bratasena. Sanaha dan Bratasena memiliki anak yang bernama Sanjaya yang kelak menjadi raja Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh (723-732 M).

Berita dari Tiongkok

Berita keberadaan Kalingga atau Ho-Ling juga berasal dari berita yang disampaikan oleh Dinasti Tang dan catatan I-Tsing.

Catatan dari Dinasti Tang

  • Ho-ling atau Kalingga terletak di Lautan Selatan. Di sebelah utaranya terletak Ta Hen La (Kamboja), di sebelah timurnya terletak Po-Li (Pulau Bali) dan di sebelah barat terletak Pulau Sumatera.
  • Ibukota Ho-ling dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari tonggak kayu.
  • Raja tinggal di bangunan besar bertingkat yang beratap daun palem, dan singgasananya terbuat dari gading gajah.
  • Penduduk Kerajaan Ho-ling sudah pandai minuman keras dari bunga kelapa.
  • Daerah Ho-ling atau kalingga dikenal sebagai penghasil kulit penyu, emas, perak, cula badak dan gading gajah.

Catatan itu juga menyebutkan bahwa sejak tahun 674, rakyat Kalingga yang diperintah oleh Maharani Ratu Hsi-mo (Shima). seorang ratu yang sangat adil dan bijaksana. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Ho-ling sangat aman dan tentram.

Berita I-TSING

I-Tsing menyebutkan jika Kalingga sudah menjadi pusat pembelajaran agama Buddha Hinayana. Di Ho-ling juga ada pendeta Cina bernama Hwining, yang menerjemahkan salah satu kitab agama Buddha ke dalam Bahasa Tionghoa. Ia bekerjasama dengan pendeta Jawa bernama Janabadra.

Baca Juga : Kerajaan Cirebon

Menurut Catatan Tripittaka.

kitab suci Buddha berbahasa Tionghoa yang disusun sekira 720 M, ada seorang Biksu Buddha bernama Gunawarman. Sang Biksu datang dari Kashmir ke Kerajaan Jawa pada permulaan abad ke-5 M atas undangan ibu suri. Gunawarman tinggal di Jawa selama kurang dari 25 tahun (396-424 M).

Raja – Raja yang Memperintah Kerajaan Kalingga

  • Prabhu Wasumurti (594-605 M), Berkuasa selama 11 tahun. Memiliki 2 orang anak yaitu: Prabhu Wasugeni, dan Dewi Wasundari
  • Prabhu Wasugeni (605-632 M), Berkuasa selama 27 tahun.
  • Santanu, Prabhu Kirathasingha (632-648 M), mengirimkan duta besarnya ke Cina, pada tahun 632 M dan 640 M. 
  • Salendra, Prabhu Kartikeyasingha (648-674 M), Beliau wafat di Gunung Mahameru.
  • Ratu Sima, Sri Maharani Mahisa Suramardini (674-695 M), Sang Ratu adil.

Ratu Sima, Sang Ratu Adil

Kisah rasa keadilan Ratu Sima yang legendaris memenang sudah menjadi legenda di Jawa tengah. Dihikayatkan jika Ratu Sima sangat tegas pada kejahatan hingga saking tegasnya, barang yang tergeletak di jalan tak kan ada yang berani mengambilnya.

Hingga ketegasan Ratu Sima terdengar sampai negeri jauh, hingga Kaisar Tiongkok Da-zi ingin mengetes kejujuran berita itu.

Raja Da-zi pun mengirimkan utusannya untuk meletakan Tas berisi uang dan emas di jalan perbatasan negara sang ratu. Meski tas itu tergeletak begitu saja di jalan, orang-orang Kalingga tidak ada yang berani mengambil tas tersebut. Mereka hanya berlalu dan melewatinya. Tak ada yang berani menyentuhnya. Tas itu tetap di sana hingga tiga tahun lamanya.

Suatu hari, putra mahkota tanpa sengaja menyentuh tas itu. Ratu Sima pun marah besar, sampai – sampai dia ingin membunuh putranya sendiri. Tentu saja kemarahan sang Ratu di hentikan oleh para menterinya. Tapi sang Ratu tetap murka dan berkata.

“Kesalahanmu terletak di kakimu, karena itu sudah memadai jika kakimu dipotong,”

Ratu Sima

Para menteri tentu saja kembali menghalangi keinginan dan Ratu. Akhirnya, Ratu Sima melunak, dia hanya memotong ibu jari kaki sang pangeran.

Mendengar itu Sang Kaisar yang awalnya akan menyerang kerajaan Kalingga, memilih menghentikan niatnya untuk menyerang Kalingga, terdorong oleh Sikap dan Rasa keadilan Sang Ratu.

Meski banyak versi yang bilang jika kisah ini berasal dari Tiongkok, tapi tokoh bangsa, Buya Hamka punya pikiran dan versi berbeda. Dilansir Republika, Buya Hamka menulis dalam bukunya ‘Sejarah Umat Islam’ , jika utusan yang meletakan tas emas di kerajaan Ratu Sima adalah Raja Ta-Cheh atau Raja Arab dalam bahasa China, yang mengacu pada Muawiyah bin Abu Sofyan.

Keruntuhan Kalingga

Masa keruntuhan Kerajaan Kalingga dimulai setelah Ratu Shima meninggal dunia dan tahtanya dilanjutkan dan dibagi dua oleh keturunannya.

Satu Kerajaan Keling dan Kerajaan Medang (Mataram Kuno), Pada tahun 752, Kerajaan Kalingga Utara atau Medang menjadi wilayah kedatuan Sriwijaya (Anton Dwi Laksono, 2018:88)

Prasasti Kerajaan Kalingga

Sobat, Seperti kerajaan kuno lainnya, kerajaan Kalingga juga meninggalkan beberapa Prasasti berupa :

Prasasti Tuk Mas

Prasasti TukMas

Prasasti Tuk Mas ditemukan di lereng barat Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Prasasti Sojomerto

Sumber : dictio.id

Prasasti Sojomerto ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Prasasti ini beraksara Kawi dan berbahasa Melayu Kuno.

Candi Angin

Candi Angin

Candi Angin ditemukan di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Candi Bubrah

Candi Bubrah ditemukan di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Situs Puncak Sanga Likur

terletak di Di Puncak Rahtawu (Gunung Muria) dekat dengan Kecamatan Keling di sana terdapat empat arca batu, yaitu arca Batara Guru, Narada, Togog, dan Wisnu.

Dan itulah Kerajaan Kalingga (Holing) dan Ratunya, Sang Ratu Adil, Maharani Ratu Sima. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.

Dan menurut kamu sobat, apakah akan ada lagi penguasa adi seperti Ratu Sima di Indonesia ?

About Andika Pratama

Founder dari ilmusaku.com

Exit mobile version