Sejarah Kesultanan Cirebon, Kerajaan Islam Pertama di Jawabarat

Sobat, mungkin kalian pernah mendengar tentang Sunan Gunung Jati ? Untuk yang belum tahu, Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari ke-9 Wali Songo, yang terkenal sebagai penyebar ajaran islam Nusantara dan menjadi awal Sejarah Kesultanan Cirebon.

Nah, Sejarah Kesultanan Cirebon ini, ternyata berkaitan erat dengan Sunan Gunung Jati, dan Penyebaran Islam di Jawa Barat, karena banyak orang menyebut jika Kesultanan Cirebon adalah Kerajaan Muslim pertama di Jawa Barat.

Tapi benarkah demikian? Untuk tahu lebih banyaknya, mari kita mulai materi :

Sejarah Kesultanan Cirebon, Kerajaan Muslim pertama di Jawa barat

Apa itu Kesultanan Cirebon ?

Sumber : cirebonkota.go.id

Kesultanan Cirebon atau Kasultanan Cirebon (Sunda) adalah Sebuah Kerajaan islam yang didirikan pada abad ke-15 di Cirebon, Jawa Barat.

Konon Sejarah Kerajaan Cirebon ini didirikan oleh Sunan Gunung Jati, Setelah memerdekakan Cirebon dari Kerajaan Padjajaran. Kesultanan Cirebon sejak dahulu kala dikenal sebagai pangkalan penting yang menghubungkan jalur perdagangan antar pulau.

Selain itu Kota Cirebon menjadi garis penghubung dari kebudayaan Jawa Barat (Sunda) dan Kebudayaan Jawa. Dilihat dari berbagai macam Akulturasi budaya antara kebudayaan Sunda dan Jawa di Cirebon.

Hal ini juga bisa dilihat di Kerajaan Banten yang memiliki Akulturasi Budaya yang kuat antara Jawa dan Sunda, hingga menghasilkan Bahasa Jawa Serang.

Baca juga : Sejarah Kerajaan Sunda Galuh dan Padjajaran.

Asal Mula Nama “Cirebon”

Berdasarkan Babad Tanah Sunda dan Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, sejarah kesultanan Cirebon berasal dari kata Caruban (Campuran) karena mulanya Cirebon adalah sebuah dukuh kecil yang didirikan oleh Ki Gedeng Tapa, lalu karena letaknya yang strategis menjadi Kota persinggahan dan Kota Pelabuhan yang Ramai hingga banyak orang bercampur disana.

Tapi ada Teori lain yang menyebutkan tentang nama Cirebon ini. Menurut Teori ini nama Cirebon berasal dari kata basa sunda dari udang kecil yaitu Rebon, dan Cirebon yang saat itu adalah kota Pelabuhan, adalah penghasil udang Rebon, hingga disebut sebagai Cai Rebon (Air Udang kecil).

Letak Kerajaan Cirebon

sumber : harapanrakyat.com

Sampai hari ini letak Ibu kota kesultanan Cirebon berada di sekitar kota Cirebon di pantai utara Jawa. Sejak abad 16, kota ini telah berkembang menjadi pusat perdagangan dan perdagangan regional utama, serta pusat pembelajaran Islam.

Tapi pada tahun 1677, Keraton dari Kesultanan Cirebon terpecah menjadi 3, hingga pada tahun 1807, kesultanan Cirebon terpecah menjadi empat. Sampai saat ini terdapat tiga Keraton, Kesultanan Cirebon yaitu Keraton Kasepuhan, Keraton, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan dan Keraton Keprabonan.

Sampai sekarang semuanya masih aktif melakukan upacara – upacara kerajaan dan budaya sampai sekarang.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Cirebon

Menurut teori yang disampaikan oleh Sulendaningrat, mengacu pada Babad Tanah Sunda dan Carita Purwaka Caruban Nagari, Cirebon semula merupakan padukuhan kecil (Dusun) yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa.

Ki Gedeng Tapa atau akrab dikenal dengan nama Ki Gedeng Jumajan Jati mendirikan Cirebon pada tanggal 1 Syura tahun 1358 Saka atas perintah dari Raja Kerajaan Sunda Galuh.

Cirebon dianggap memiliki lokasi yang strategis dan dapat berkembang menjadi kota pelabuhan yang dapat menarik minat para pedagang termasuk para pedagang Muslim dari Arab dan Cina.

Lalu kekuasaan kota Cirebon turun ke Pangeran Cakrabuana atau Pangeran Walangsungsang, anak pertama dari Prabu Siliwangi dari Nyi Subang Larang. Nyi Subang Larang adalah anak dari Ki Gedeng Tapa.

Saat menjabat, Pangeran Cakra buana telah memeluk agama Islam.

Bahkan Pangeran Cakra buana, pernah menunaikan ibadah haji dan berganti nama menjadi Haji Abdullah Iman.

Cirebon mulai mengalami perkembangan yang berarti saat pemerintahan Syarif Hidayatullah atau yang kita kenal dengan nama Sunan Gunung Jati.

Sunan Gunung Jati.

Sumber : liputan6.com

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah merupakan putra dari Nyai Rara Santang (Adik Pangeran Cakrabuana) dan Maulana Sultan Muhammad Syarif Hidayatullah dari Mesir. Sebelum memerintah Cirebon, Sunan Gunung Jati pernah menimba ilmu Islam keluar negeri dan juga pernah berguru ke Sunan Ampel di Jawa Tengah.

Sebagai salah satu wali, Sunan Gunung Jati turut menyebarkan agama Islam di Majalengka, Kuningan, Kawali, Sunda Kelapa, hingga Banten. Ia menghapus kekuasaan Kerajaan Pajajaran yang bercorak Hindu.

Pada tahun 1482 Sunan Gunung Jati mengirimkan surat kepada kakeknya Prabu Siliwangi, yang bertuliskan bahwa Cirebon menolak untuk memberikan lagi upeti kepada Kesultanan Sunda Galuh.

Padahal Sebelumnya Pangeran Cakra buana selalu memberikan upeti. Nah, dari penolakan itulah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati memproklamasikan kemerdekaan Cirebon dari Pajajaran atau Sunda Galuh.

Proklamasi kemerdekaan Cirebon ditandai dengan Chandrasengkala Dwa Dasi Sukla Pakca Cetra Masa Sahasra Patangatus Papat Ikang Saka kala yang di tetapkan sebagai hari jadi kota Cirebon dan selalu dirayakan sampai hari ini sobat.

Hingga pada akhirnya Syarif Hidayatullah memutuskan untuk melepaskan diri dari Kerajaan Sunda Galuh dan memerdekakan diri. Dia juga menolak memberikan kewajiban upeti, berupa garam dan terasi, kepada Prabu Siliwangi.

Dan sejak itulah kesultanan Cirebon berdiri. Proklamasi kemerdekaan Cirebon bertepatan dengan 12 Shafar 887 Hijriah atau 2 April 1482 M atau hari jadi kota Cirebon modern.

Baca Juga : Teori Masuknya Islam ke Nusantara

Jatuhnya Sunda Kelapa dan Fatahillah.

Fatahilah (sumber : tempo.com)

Mengetahui Sejarah Kesultanan Cirebon tidak lengkap tanpa Mengetahui sosok Fatahillah atau Faletehan.

Fatahillah mulai terdengar namanya setelah Cirebon memerdekakan diri dari Sunda Galuh. Saat itu Prabu Siliwangi murka hingga dia mengirim Tumenggung Jagabaya dan bala tentaranya untuk menyerang dan mendesak Cirebon agar kembali ke dalam kekuasaan Sunda Galuh.

Tapi tiba di Cirebon, Tumenggung Jagabaya dan Bala Tentaranya malah masuk islam dan memilih menetap di Cirebon dan menjadi orang kepercayaan Sunan Gunung Jati.

Hingga akhirnya, berita persekutuan Portugis-Sunda tahun 1522 diketahui oleh Sunan Gunung jati. Lalu beliau meminta kepada sekutunya, saat itu yaitu kesultanan Demak untuk mengirimkan pasukan ke daerah Banten.

Saat itu Fatahillah yang berasal dari Kerajaan Samudra Pasai di utus oleh demak sebagai pemimpin pasukan untuk menaklukkan Sunda kelapa dan Banten dari Pajajaran.

Dia lalu berangkat bersama Pangeran Hasanudin (Putra Sunan Gunung Jati) memimpin operasi militer untuk melawan armada Portugis yang tiba di pantai Sunda Kelapa pada tahun 1527 dan merebut Sunda Kelapa dan Banten dari Sunda Galuh/Pajajaran.

Saat itu, Pelabuhan Sunda Kalapa sudah dikenal semenjak abad ke-12 sebagai pelabuhan paling penting milik Pajajaran. Tempat singgahnya para pedagang asing dan dalam negeri.

Setelah operasi itu berhasil, Sunan Gunung jati lalu mengangkat Hasanudin, anaknya menjadi raja di Banten dan mendirikan Kesultanan Banten.

dan Sunan Gunung Jati memutuskan untuk fokus terhadap penyebaran Islam dan memilih mundur dari jabatannya sebagai sultan.

Dia lalu digantikan oleh Fatahillah, meski Umur pemerintah Fatahilah hanya bertahan selama 2 tahun, sebelum akhirnya dia mangkat.

Raja – Raja Kesultanan Cirebon.

Masa kesultanan Cirebon :
  • Sunan Gunung Jati (Syekh Syarif Hidayatullah)
  • Fatahillah
  • P. Adipati Pasarean (Pangeran Muhammad Arifin)
  • P. Adipati Carbon I (Pangeran Sedang Kamuning)
  • Panembahan Ratu Pakungwati I (Pangeran Emas Zainul Arifin)
  • Pangeran Adipati Carbon II (Pangeran Sedang Gayam)
  • Panembahan Ratu Pakungwati II (Panembahan Girilaya)

Masa Kesultanan Kasepuhan :

  • Pangeran Raja Adipati Syamsuddin Martawijaya (Sultan Sepuh I) (bertahta dari 1662-1697).
  • Pangeran Djamaluddin (Sultan Sepuh II) (bertahta dari 1697-1720).
  • Pangeran Djaenudin Amir Sena I (Sultan Sepuh III) (bertahta dari 1720-1750).
  • Pangeran Djaenudin Amir Sena II (Sultan Sepuh IV) (bertahta dari 1750-1778).
  • Pangeran Syaifudin / Sultan Matangadji (Sultan Sepuh V) (bertahta dari 1778-1784).
  • Pangeran Hasanuddin (Sultan Sepuh VI) (bertahta dari 1784-1790).
  • Pangeran Djoharuddin (Sultan Sepuh VII) (bertahta dari 1790-1816).
  • Pangeran Radja Udaka (Sultan Sepuh VIII) (bertahta dari 1816-1845).
  • Pangeran Radja Sulaeman (Sultan Sepuh IX) (bertahta dari 1845-1890).
  • Pangeran Radja Atmaja (Sultan Sepuh X) (bertahta dari 1890-1899).
  • Pangeran Radja Aluda Tajul Arifin (Sultan Sepuh XI) (bertahta dari 1899-1942).
  • Pangeran Radjaningrat (Sultan Sepuh XII) (bertahta dari 1942-1969).
  • Pangeran Radja Adipati H. Maulana Pakuningrat SH (Sultan Sepuh XIII) (bertahta dari 1969-2010).
  • Pangeran Radja Adipati Arief Natadiningrat SE (Sultan Sepuh XIV) (2010 – 2020)

Baca juga : Sejarah Kesultanan Demak

Dan itulah kawan sejarah kesultanan Cirebon, semoga informasi ini bermanfaat untuk kita semua. Sampai jumpa di Pembahasan menarik lainnya.

About Andika Pratama

Founder dari ilmusaku.com

Exit mobile version